SURAT CINTA SANG IKHWAN

Surat Cinta sang Ikhwan

assalamu’alaikum wahai engkau yang melumpuhkan hatiku

tak terasa dua tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.

takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.

wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa kepada tuhan, mungkin aku ingin meminta agar dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.

banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu tentang dia karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangmu terhadapku. namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).

wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali. juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu. sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin berpacaran denganmu.

wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada bidadari-ku nanti. wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanlah dirimu.

wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku, jika saja dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku. andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.

aku yang tidak mengerti diriku…

ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?! namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu… aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.

wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.

wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, mintalah kepada tuhan-mu, tuhan-ku, dan tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. memintalah kepada-nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.

wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah dosa.

wassalam

Nb:
Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan kepadamu wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku. Surat ini ingin kuselipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku hanya lelaki yang tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku.




HADITS TENTANG FADHILAH SURAT YASIN

Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

HADITS DHA'IF (Lemah) dan MAUDHU' (Palsu)
Adapun hadits-hadits yang semuanya dha'if (lemah) dan atau maudhu' (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :

1. " Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum'at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya".(Ibnul Jauzi, Al-Maudhu'at, 1/247).

Keterangan :
Hadits ini Palsu.
Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya.
Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa : Al-Maudhu'at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I'tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua'ah hal. 268 No. 944).

2. " Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya".

Keterangan :
Hadits ini Lemah.
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu'jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma'in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa : Mizanul I'tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).


3. " Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid".

Keterangan :
Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu'jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa'id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. (Periksa :Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I'tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45).

4. " Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya".

Keterangan :
Hadits ini Lemah.
diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja'. Atha' bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H.(Periksa : Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I'tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22).

5. "Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an dua kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Keterangan :
Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha'if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani).

6. "Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur'an sepuluh kali". (Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman).

Keterangan :
Hadits ini Palsu.
(Lihat Dha'if Jami'ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani).

7. "Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur'an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur'an sepuluh kali".

Keterangan :
Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 3048) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman.
Ayah Ibnu Abi Hatim berkata : Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa : Silsilah HaditsDha'if No. 169, hal. 202-203)

Imam Waqi' berkata : Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa'i : Muqatil bin Sulaiman sering dusta.(Periksa : Mizanul I'tidal IV:173).

8. "Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi".

Keterangan :
Hadits ini Lemah.
Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar : Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. (Periksa :Taqrib I:355, Mizanul I'tidal II:283).

9. "Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu".

Keterangan :
Hadits ini Lemah.
Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).

10. " Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza') melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya".

Keterangan :
Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa'i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu 'Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. (Periksa : Mizanul I'tidal IV : 90-91).

Penjelasan
Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu).

Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri.

Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur'an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur'an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur'an. (Periksa : Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha'if,hal. 113-115).

Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini.

Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Wawancara ini dilakukan oleh seorang saudari kita (qurban khoroona) terhadap seorang Mujahidah Afghan, Ummi Riazullah.
Beliau adalah saudari dari empat syuhada dan beliau sendiri adalah seorang Mujahidah. Beliau turut serta dalam pertempuran selama invasi Sovyet. Suaminya adalah pria yang telah berumur, dia diseruduk seekor sapi sehingga tangannya patah sampai sekarang. Karena perawatan yang kurang baik, sikunya menjadi tidak normal seperti semula. Kita mohon pada Allah agar dia diberi kesembuhan sehingga dapat melakukan sesuatu untuk Islam kembali.

Ummi Riazullah aslinya berasal dari Kabul, Afghanistan. Beliau pindah ke Pakistan dan saat ini tinggal di salah satu tempat pengungsi di Pakistan. Beliau sekarang berumur 60-an tahun, tetapi Masha Allah semangatnya seperti gadis berumur 20 tahun. Anak laki-lakinya adalah seorang Mujahid, begitu juga cucu laki-lakinya juga seorang Mujahid. Suaminya adalah seorang muslim yang taat dan wajahnya dipenuhi cahaya keimanan.

Saya: Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Mujahidah: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Saya: Darimana anda berasal ?

Mujahidah: Saya berasal dari Kabul

Saya: Kapan anda datang ke tempat pengungsian ini di Pakistan ?

Mujahidah: Kami adalah salah satu pengungsi yang datang sejak awal. Mulanya mereka mengirim kami ke [diedit] dan kemudian kami dipindahkan ke sini. Akhirnya kamipun tinggal di sini

Saya: Apakah anda bermaksud pulang kembali ke Afghan ?

Mujahidah: Jika mereka mengijinkan kami tetap tinggal, tapi jika mereka tidak mengijinkan maka kami harus pulang. Saya tidak ingin kembali ke Afghan karena Pemerintahan Kafir berkuasa kembali, dimana mereka sangat rakus dan serakah, insyaAllah perut mereka akan dipenuhi api neraka.

Saya: Maukah anda menceritakan pada saya tentang Jihad di negara anda ?

Mujahidah: Jihad terus berlangsung putriku, masih berlangsung dan insyaAllah akan tetap ada sampai hari Kiamat.

Saya: Apakah ada diantara anggota keluarga anda yang turut serta dalam Jihad ?

Mujahidah: Ya, yaitu cucuku. Dia berada di Helmand dan juga anakku sendiri, dia di negara ini sekarang berjihad dengan media. Banyak tentara Amerika di sana. Mujahidin berada di jalan Allah… dan siang malam mereka ada yang meninggal, dan Alhamdulillah mereka meninggal dengan cara luar biasa. Semua ini adalah Rahmat dari Allah.

Saya: Siapa anak kecil yang duduk dengan anda ?

Mujahidah: Dia juga cucuku, dia belajar di sebuah Madrasah di kamp sini.

Saya: Akankah anda mengirimnya dalam Jihad juga ?

Mujahidah: Kenapa tidak jika nanti Allah telah menjadikannya dewasa. Apakah dia bukan anak seorang Muslim ? Nabi kita dan para sahabatnya dulu berjihad, misalnya saja di perang Badar, Uhud dan perang-perang lainnya. Kita tidak lebih baik daripada mereka dari sisi apapun. Mereka telah diberi kabar gembira dengan surga ketika masih hidup, sementara iman yang kita miliki sangat kecil dibandingkan mereka.

Saya: Dimana keluarga anda yang lain ? di Kabul ?

Mujahidah: Ya, mereka ada di Kabul. Semua laki-laki kami ada di Kabul. Mereka berjihad fie sabilillah dan semua wanitanya ada di kamp ini. Kami adalah wanita-wanita satu desa yang tinggal di kamp ini, dan kamipun senang berada di sini.

Saya: Apakah wanita juga berjihad di sana ?

Mujahidah: Tidak, tapi ada beberapa wanita yang berjihad di Helmand. Di sana ada bukit-bukit, ketika orang-orang kafir berkumpul pada satu tempat mereka menyerangnya dari belakang bukit. Harta dan barang rampasan dari orang kuffar kemudian dikumpulkan. Mereka mencoba menolong negeri mereka dan Muslimin yang memiliki kekuatanpun menolong mereka.

Agama ini namanya Islam, panduannya Al Qur’an. Jika kamu berpegang teguh padanya tentu jalanmu ke Surga akan lebih mudah. Tidak peduli berapapun uang yang kau miliki, tetap tidak bisa membawamu ke jannah.

Kesengsaraan di dunia hanya sementara, akan tetapi kesengsaraan di akhirat akan kekal selamanya. Di negara kami ketika mereka menggali dan menemukan mayat orang kafir, ada ular yang sedang menggigit mayat tersebut di dahinya. Orang-orang yang menggali tadi berdoa agar mereka dapat meletakkan mayat tersebut kembali ke lubang kuburnya. Setelah didoakan oleh mereka ular itupun pergi. Inilah apa yang terjadi terhadap kelakuan orang-orang kafir.

Hal lain terjadi pada sebuah mayat yang didapati telah dikubur 3 tahun, tubuhnya terlihat masih segar seperti baru saja kena tembak, darahnya menyebarkan wangi misk dan warnanya masih segar. Jenggotnya begitu indah dan dahinya bercahaya. Ada juga mayat lain yang kalashnikov-nya masih menyertainya. Kedua mayat ini sudah 3 tahun terkubur. Kalashnikov-nya masih dalam keadaan baik begitupun dengan tubuhnya seolah-olah baru saja meninggal.

Saya: Bisakah anda ceritakan tentang cucu anda yang berada di Helmand ?

Mujahidah: Dia menghubungi dua bulan yang lalu dan mengabarkan bahwa dia ditempatkan di pos lain dan saat ini tidak ada kesempatan untuk kembali. Istrinya di sini dan dia mengatakan bahwa dia merasakan tanda-tanda bahaya pada suaminya karena matanya sering berkedip (berhubungan dengan tahayul, red). Maka saya beritahu dia agar jangan berbuat sirik dan bid’ah, semua ini tidak benar. Jangan ikuti hal-hal seperti ini yang merupakan perbuatan syirik dan bid’ah. Dengan mempercayainya kamu menghancurkan akidahmu dan aku beritahu dia tidak usah khawatir dan jangan bersedih, insyaAllah Allah akan membawa suamimu pulang.

Saya: Jadi apakah anda Salafi ?

Mujahidah: Ya kami adalah Salafi, ini adalah agama yang benar. Agama para salafus sholeh. Kami semua Salafi dan kami melakukan jihad. Kami tidak seperti agen-agen kafir yang hanya menginginkan dollar, mobil dan pesawat. Sebagian Taliban adalah Salfi dan sebagian lainnya Deobandi.

Saya: Pernahkah anda turut serta dalam Jihad ?

Mujahidah: Wanita kami berjihad saat invasi Sovyet. Saya sendiri turut serta di dalamnya. Topografi negara kami adalah pegunungan, kami berjihad dan menghabiskan malam-malam di pegunungan dan memukul mundur tentara Rusia, Alhamdulillah. Dan sekarang kami kembali ke pegunungan lagi. Kami meninggalkan segala milik kami di negara kami. Kami telah membebaskan negara kami dari Rusia namun kemudian orang-orang Munafikin diantara kami yang rakus muncul dan menghancurkan negara kami. Sekarang orang-orang Amerika memiliki kekuasaan di sana, juga orang-orang Munafikin dan Rusia. Allah bersama kami dan Dia lah Yang Maha Kuasa.

Saya sendiri pernah berjihad. Kami menghabiskan tiga malah di pegunungan dan kami berhasil memukul mundur tentara Rusia ke suatu tempat hingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk kembali dan akhirnya mereka mundur.Taliban masih di Afghanistan dan insyaAllah mereka akan terus melanjutkan operasi di sana dan semoga suatu hari mereka berhasil.

Ketika saya datang dari Afghanistan, saya memakai chador di mataku dan saya datang dengan mata tertutup seperti itu supaya saya tidak melihat orang Kafir siapaun dan juga sekutu-sekutunya, dan jika ada kesempatan disingkirkan saya berdoa pada Allah supaya menghancurkan mereka atau mencabut mata saya. Wajah mereka begitu kotor… Allah telah membawa kami ke negeri Muslimin [Pakistan], kami telah membuat ruangan-ruangan temporer bagi kami.

Saya: Namu sekarang orang-orang mulai akan pulang kembali ke negara mereka dengan kemauan sendiri..

Mujahidah: Ya mereka akan… Namun mereka adalah orang-orang yang mendukung agen-agen tamak KUffar. Saya adalah wanita miskin dan jika mereka mencoba untuk membunuh saya maka mungkin saya akan pergi ataupun saya tidak akan pergi sampai pemerintahan Islam Taliban terbentuk di sana. Kenapa saya harus pergi ke sana sementara orang-orang Kafir berkeliaran bebas di sana ? Di sini orang-orang Pakistan mereka adalah orang-orang yang baik, mereka membantu kami dan bahkan jika kami hanya mencukupkan dengan batuan mereka hal itu sudah cukup bagi kami.

40 Kuffar terbunuh dua bulan lalu dalam sebuah pertempuran dengan Taliban… dan tidak seorang Mujahid Taliban-pun yang terluka, bahkan yang tergorespun tidak ada. Orang-orang kafir itu terkapar tewas di tanah dengan wajah mereka terbenam ke tanah dan lidah-lidah mereka menjulur. Kemudian sebuah pesawar datang dan mengangkut semua mayat itu. Mereka menyisakan banyak barang rampasan perang. Keponakan laki-lakiku turut serta dalam perang ini, dia mengatakan bahwa mereka memanfaatkan semua barang rampasan termasuk makanan dan dipastikan terlebih dahulu kehalalannya. Anakku mendapat tiga dari empat kalashnikov dari sana dan kemudian menjual semuanya. Aku telah mempersembahkan empat saudara lelakiku dalam Jihad dan semuanya telah syahid dan seluruh keluarga kami turut ambil bagian dalam jihad. Jumlah mereka yang berjihad sangat banyak, kami memilki keluarga besar dan para pria dipersembahkan dalam jihad fi sabilillah.

Jika bukan karena pesawat-pesawat mereka yang membombardir dari angkasa, maka hanya sedikit dari kaum laki-laki kami sudah cukup untuk menghadapi 3 kali lipat jumlah pasukan Kuffar yang ada saat ini. !!!

Orang-orang kafir memiliki segala jenis fasilitas, akan tetapi Allah bersama kami. Allah telah memberikan mereka hanya dunia, sedangkan bagi kita adalah Akhirat, insyaAllah.

Berdoalah bagi cucu dan anakku, kami telah mengirim uang kepadanya, yang ayahnya telah mengumpulkan sekitar 5000 Rs ($ 83). Kami mengirim uang ini melalui seorang pria dan terakhir kali kami memberikannya dua bulan lalu ketika dia datang ke sini. Pria (kurir) itu akan datang bulan depan atau mungkin dia-nya sendiri yang akan datang dan aku akan membawanya menemuimu.

qurban khoroona


PUISI BUAT SANG ABI

Mari mengaji, Bi
agar hati menjadi suci
bermandikan ayat-ayat ilahi

Bi, engkau kunanti,

Mari mengaji, Bi
Agar kami semakin mengerti
Kami adalah benih yang menanti
Kau sirami dengan kalam ilahi

Bu Sinta terpana saat usai membaca puisi pendek yang tertulis di kertas yang tergeletak di atas meja. Itu adalah tulisan Nadia, putri tengahnya yang menginjak usia sepuluh tahun.
Air mata ibu yang berusia 35 tahun itu menetes. Merasakan kerinduan anaknya kepada sang abi. Terbayang percakapannya dengan Nadia tiga hari yang lalu. “Mbak Nadia ikutan liqo, ya. Mau ada pembentukan liqo anak-anak, nih!”
Putri Bu Sinta menekan bibir atas ke bibir bawahnya dan mengerutkan dahi. Pertanda ia sedang berpikir.
“Aku nggak mau ikut liqo-liqoan ah, Mi.”
“Lho memangnya kenapa, kan bisa tambah ilmu…,” bujuk Bu Sinta.
“Ya, nggak mau aja…!”
Tidak ada jawaban yang ke luar lagi walaupun Bu Sinta membujuknya berkali-kali. Putri Bu Sinta satu ini kadang-kadang memang sulit untuk menyampaikan apa yang ada di dalam hati atau pikirnya secara langsung.
Tapi saat membaca puisi Nadia tadi, Bu Sinta mulai meraba-raba. Apakah mungkin ini penyebabnya? Abi…, laki-laki yang menikahinya sebelas tahun yang lalu itu agaknya perlu membaca puisi anak putrinya. Ibu berputra lima itu mulai melihat hari-hari mereka.
Ia dan suami dulu mengikat tali pernikahan dengan semangat untuk berdakwah. Sama-sama aktivis dakwah tentulah menikah punya semangat yang membara untuk perbaikan umat. Mereka sama-sama telah berjanji untuk menjadi dai. Sang Penyeru.
Dan, hari-hari merekapun dipenuhi aktivitas mengaji. Tiada hari tanpa memberi pengajian atau mengaji. Sebagai efeknya, hari-hari terasa begitu sempit.
Sepulang kerja, tak ada kata untuk rehat. Abi harus bergegas menyiapkan materi bagi mutarobbi. Ba’da maghrib atau Isya “terbang” lagi untuk mengisi liqo atau taklim. RAsanya jarang mendengar abi mengaji di rumah kecuali menghafal ayat yang masuk dalam materi pengajian. Tujuh hari dalam sepekan hanya tersisa satu malam untuk mengikuti ronda kampung. Hari Ahad kadang terpakai untuk kerja bakti di rumah atau acara-acara lain.
Bu Sinta pun punya agenda seabreg. Ada dua taklim dan dua liqo yang ditanganinya. Belum lagi acara-acara insidental. Alhamdulillah, Bu Sinta adalah ibu rumah tangga sejati. Ia tidak harus bekerja, sehingga relatif masih punya waktu cukup untuk anak-anaknya.
Kelima anak-anaknya sekolah full day school. Mereka pun punya aktifitas nyaris padat seperti ayah-ibunya. Sampai sore sekolah, ikut ekstra, atau ikut acara umi-abi (biasalah, anak kader kadang harus ikut acara umi-abi dulu sepulang sekolah karena alasan tennis).
Ba’da maghrib menanti Isya mengaji dan setoran hafalan bersama umi. Selesai Isya belajar dan menyiapkan pelajaran esok hari. Lalu tidur.
Tengah malam sang abi pulang. Abi selalu menyempatkan untuk menjenguk anak-anak. Membetulkan selimut yang sudah entah kemana atau memindahkan …yang selalu turun ke lantai saat tidur. Tapi, agaknya kecintaan Sang Abi itu tak terbaca. Anak-anak masih tetap memendam rindu. Bu Sinta merasa bahwa ada yang harus dibenahi dalam manajemen keluarganya. Terutama terhadap anak-anak.
Selama ini berkali-kali ia menyampaikan kepada suaminya bahwa anak-anak sudah cukup besar dan memerlukan perhatian ekstra. Beberapa kisah di antara ummahat membuatnya prihatin. Ada yang anaknya pacaran, kedapatan menyimpan gambar porno, mencuri, mengintip orang mandi, dan sebagainya. Dan…sekarang, anaknya tidak mau ikut liqo! Tapi sang abi selalu menghindar dan berkata,”Semoga kita dijaga Allah, karena kita menjaga agama-Nya.”
Kata-kata itu benar adanya. Tapi… apakah itu akan otomatis tanpa upaya ekstra untuk menjaganya? Oh…jarak terasa membentang. Semua memang harus diperbaiki. Majalah Tarbawi edisi khusus yang memuat profil keluarga Bu Wiwik-Pak Mutamimul membuatnya tergugah. Mereka begitu bersungguh-sungguh mendidik anak-anak mereka yang berjumlah sebelas orang itu! Dari foto keluarganya saja Bu Sinta melihat sinar dari wajah-wajah mereka yang insya Allah karena kedekatan mereka dengan Al Qur’an.
Menurut bu Wiwik semua itu tak lepas dari peran besar sang ayah. Bu Wiwik membuktikan bahwa orang-orang besar selalu berayahkan orang-orang besar. Imam Syafii ditinggal ayahnya saat berusia 7 tahun, tapi isi kepala ayahnya sudah dipindahkan kepada Imam Syafii.
Mungkinkah mereka salah manajemen selama ini? Apakah kesigapan mereka di dakwah tak lebih dari keegoan mereka selaku orangtua? Na’udzubillah. Semoga tidak. Mudah-mudahan hanya karena mereka harus belajar lagi untuk menjadi ayah dan ibu yang lebih baik, sehingga anak-anak mereka adalah orang pertama yang merasakan kemanisan dakwah, bukannya merasakan kepahitan karena ditinggal terus berdakwah…

HUMOR SENYUM

1. Taaruf Unik
Seorang ikhwan yang kuliah di semester akhir berazzam untuk menyempurnakan separuh dien-nya. Sebagaimana biasa, beliau pun menghubungi ustadnya dan memulai proses dari awal sampai akhirnya tiba saatnya untuk taaruf, yaitu dipertemukan dengan calonnya. Tibalah hari dan jam yang telah ditentukan, dengan semangat seorang aktivis, beliau datang tepat waktu di sebuah tempat yang telah di janjikan ustad. Taaruf pun dimulai, sang akhi duduk disebelah murobby, sementara agak jauh di depannya sang akhwat di temani murobbiyahnya dengan posisi duduk menyamping menjauhi sudut pandangan si ikhwan. Setelah sekian lama berlalu tak ada pembicaraan, sang murobby berbisik pelan pada mad'unya yang malu-malu ini,
" Gimana akhi, sudah lihat akhwatnya belum, sudah mantap apa belum .?"
" Sudah Ustad, saya mantap sekali ustad, akhwatnya yang sebelah kiri itu
khan ? "Murobbynya kaget, wajahnya berubah agak kemerahan. " Eh..gimana
antum ! yang itu istri saya !"


2. Kriteria
Seorang Akhi muda yang baru lulus S-2 di luar negri ditanya oleh ustadnya mengenai kriteria akhwat yang diinginkannya. Maka dengan segala idealisme sebagai seorang Ikhwan, mulailah ia mencari-cari kriteria dan menuliskan hampir lebih dari sepuluh kriteria, kemudian menyerahkan pada ustadnya tersebut. Kriterianya sangat bermacam-macam dan agak mengada-ada. Dari yang pertama dia harus seorang akhwat, cantik, pendidikan tinggi, Suku Sunda, berkacamata, lulus dengan cumlaude, hafal sekian juz. dan demikian seterusnya. Setelah diproses oleh sang ustad, akhirnya ia diberitahu bahwa tidak ada akhwat yang bisa sesuai dengan 10 syarat tesebut. Kemudian sang Ikhwan mengurangi kriterianya menjadi 9, setelah diproses sekian minggu ternyata hasilnya nihil. Kemudian sang ikhwan mengurangi satu lagi dari kriterianya menjadi delapan. Dan setelah ditunggu sekian lama hasilnya tetap nihil karena terlau ideal kata ustadnya. Dan demikian seterusnya setiap kali gagal sang ikhwan mengurangi satu kriteria. Sampai setelah lewat lebih dari dua tahun sang Ikhwan akhirnya menemukan pasangan hidupnya.Tapi itupun setelah kriterianya tinggal satu !


3. Poligami
Seorang Akhi baru saja melangsungkan pernikahan dakwahnya dengan seorang akhwat yang sama-sama berjiwa aktivis pula. Minggu-minggu awal pun dilalui dengan penuh ceria, Qiyamul-lail berjamaah, baca Al-Ma'tsurat sama-sama, tabligh akbar bersama bahkan sampai demo dan longmarch pun dilakukan sama-sama. Suatu ketika setelah pulang dari suatu acara seminar bertemakan Poligami, pasangan ini terlibat dalam pembicaraan serius,
" Bagaimana Mi, pendapat Ummi tentang poligami secara umum "
" Abi, secara umum poligami tidak ada nilai buruknya sebagaimana yang
digemborkan banyak orang, bahkan itu merupakan solusi satu-satunya lho."
" solusi bagaimana maksud Ummi ?"
" Maksudnya, coba deh abi lihat, berapa perbandingan jumlah ikhwan dan
akhwat, di Jakarta aja lebih dari 1 : 7, kalau semuanya dapat satu-satu,
maka bagaimana nasib yang tiga lainnya ? "
" Kalo Ummi sudah paham, bagaimana kalo kita yang memulai ?"
" Maksud Abi bagaimana ? "
" Abi mau poligami, tapi yang cariin calonnya ummi saja ya."
" Apaa..! abi mau poligami ? "
" Ya dong, khan Ummi sendiri yang bilang tadi, ingat ini juga sunnah Nabi
Muhammad SAW lho.."
" Wah ! kalo begitu abi salah menafsirkan Siroh Nabawiyah, khan Rasul
berpoligami setelah istri pertamanya Kahdijah ra, meninggal.
Nah ! Jadi abi boleh menikah poligami sampai empat pun boleh, asal setelah
Ummi, istri pertama Abi ini, meninggal, OK ?"
" Ini pasti Murobbiyah ya yang ngajari..?"
Sang istri tersenyum manja penuh kemenangan


4. Mendukung Poligami
Suatu ketika di sebuah resepsi pernikahan aktivis dakwah. Sebagaimana biasa, kedua mempelai belum banyak mengenal pribadi masing- masing pasangannya. Hal inilah yg kemudian menjadi incaran sang pembawa acara untuk dijadikan bahan 'game' sebagai hiburan bagi para hadirin. Tentu saja ini tidak sekedar game yang kosong tanpa makna, namun juga mengandung pesan dakwah kepada parahadirin. Sang mempelai pria duduk tenang di singgasananya sendirian. Dan agak jauh dibalik hijab disampingnya duduklah pasangan putrinya. Akhi pembawa acara mulai mengomando jalannya game tersebut. Aturannya, sang mempelai putra akan ditanya tentang sesuatu dan jika jawaban tersebut benar menurut mempelai putri, maka sang mempelai putri akan menabuh gendang satu kali. Dan gendang akan ditabuh dua kali jika jawaban dianggap salah. Tentu saja hal ini ditujukan untuk menguji sejauh mana kekompakan kedua mempelai. Beberapa pertanyaan diajukan, dan jawaban dari mempelai pria selalu dibenarkan oleh pasangannya, Sampai suatu ketika pembawa acara memberi pertanyaan yg berbunyi :
" Apa pendapat istri anda tentang sunah Rasulullah yg bernama poligami,
mendukung atau menentang ?" Sang mempelai pria pun dengan mantap dan tenang menjawab, " mendukung !" Tidak ada jawaban dari pihak mempelai putri. Yang ada malahan sedikit keributan di barisan hadirin putri. Namun alhamdulillah beberapa saat kemudian terdengarlah tabuhan gendang sebanyak satu kali pertanda mempelai
putri pun setuju dan mendukung poligami. Para hadirin yg kebanyakan para ikhwah pun lega dan bertakbir dengan mantap. Sesampainya di rumah, seolah tak percaya sang suami pun menanyakan kembali tentang dukungan istrinya tadi,
" Bener nih mi, mendukung poligami ?"
" wah, abi kurang yakin ya..? poligami sebagai sunah Rasul jelas harus kita dukung bi, tapi kalo abi yg mau poligami, itu jelas urusan lain bi.., enggak rela lah ! ". Sang istripun tersenyum manja penuh kemenangan.


5. Masih mau Sekolah (menurutku ini yang paling lucu...hahaha)
Seorang ikhwan yang baru saja menyelesaikan studi S1 nya menghubungi sang Murobby. Apalagi kalau bukan untuk meminta sang ustad mencarikan jodoh terbaik baginya. Tentu saja sang akhi ini tidak sekedar ingin menikah, tapi juga siap menikah. Lho, apa bedanya ?. Ingin menikah bagi seorang akhi cenderung bersifat objektif. Artinya ia menginginkan atau menuntut seorang akhwat -yang akan menjadi istrinya nanti- untuk tampil dengan performance dan sifat yang terbaik, menurutnya. Bisa
jadi ia ingin seorang akhwat yang harus cantik, tinggi, pintar masak, cerdas, penyabar dan lain sebagainya. Atau bisa jadi ia menginginkan yang lebih spesifik misalnya seorang dokter, dosen, hafidzah, atau mungkin yang berasal dari suku tertentu. Lebih parah lagi jika 'ingin menikah' di sini berarti : ingin menikahi ukhti A, B atau C. Yang jenis ini bukan berarti tidak boleh. Hanya saja, kurang elegan. Lalu bagaimana dengan siap menikah ?. Siap menikah bagi seorang akhi berarti kesiapan dari sisi subjektif dirinya. Artinya, ia akan mengukur kemampuan dirinya untuk memimpin rumahtangga, tanpa banyak terpengaruh faktor siapa yang akan mendampinginya. Dengan bahasa lain, dia punya kesimpulan : " yang penting ana harus siap dan baik dulu, siapapun istri ana dan bagaimanapun dia, toh ana juga yang harus membimbingnya ". Yang jenis ini lebih elegan. Artinya siap mental dalam menikah. Nah kembali ke cerita sang akhi yang selain ingin, juga siap untuk menikah. Sang murobby yang dikonfirmasi pun menyambut permintaan ini dengan semangat.
Betapa tidak ? bukankah menjodohkan adalah sebuah amalan mulia. Apalagi yang
dijodohkan adalah ikhwan dan akhwat yang masing-masing mempunyai misi dan
visi untuk dakwah? Maka dimulailah proyek perjodohan yang indah dan terjaga oleh sang Murobby. Dari mulai tukar biodata sampai ta'aruf belum terlihat ada masalah. Namun ketika sang murobby mengkonfirmasi kesediaan sang akhwat, ternyata sang
akhwat menolak. Entah sang akhwat punya alasan apa, yang jelas ia hanya bisa beralasan pada sang murrobby :" Afwan ustad, saya masih mau melanjutkan sekolah dulu.." Terpukul hati sang akhi mendengar jawaban sang akhwat. Pikirnya dalam hati,
mengapa kalau masih mau sekolah ia bersedia memberikan biodatanya dan bahkan
sampai proses taaruf ? Sang murrobby pun merasakan hal yang sama. Ada apa gerangan di balik penolakan ini ?. Sang Akhi beritikad baik untuk tetap menikah. Sang murrobby pun kembali dengan senang hati membantu sang akhi. Dilalui proses dari awal sebagaimana yang pertama tadi. Namun sayang seribu sayang. Kasus penolakan yang pertama kembali terulang. Masih dengan alasan yang sama : sang akhwat masih mau melanjutkan sekolah. Pusing kembali melanda sang akhi kita ini. Dicobanya sekian kali untuk berinstropeksi: Adakah yang salah dalam biodatanya ? Atau ada kesalahan kah saat taaruf kemarin ? Ah , rasa-rasanya semuanya begitu lancar, tak ada masalah. Atau masalah penampilan fisik ?. Ah, benarkah itu masih menjadi kriteria yang prinsip di jaman ini ? . Sang akhi bingung, ia benar-benar belum
menemukan jawaban yang tepat atas kasus penolakan dirinya. Sang murroby tampaknya ikut merasa bertanggung jawab dengan penolakan tersebut. Mungkin karena merasa kasihan dengan dua kali penolakan tersebut, sang murrobby pun berinisiatif untuk ambil langkah yang lain. Kebetulan ia mempunyai adik perempuan yang juga seorang akhwat. Maka setelah mengadakan briefing yang intensif terhadap sang adik, dimulailah proses perjodohan keduanya. Biodata adik sang murroby pun berpindah ke tangan sang akhi ini. Dengan seksama di baca semua point di dalamnya. Tidak lupa dua lembar foto ukuran post card juga diperhatikan agak lama. Sang Murobby yang juga kakak sang akhwat terburu-buru untuk menanyakan kesediaan sang akhi untuk meneruskan proses. " Gimana akhi, antum bersedia melanjutkan proses ini kan ? " Sang akhi bingung bukan kepalang. Ada perasaan kurang sreg dalam dadanya. Lebih-lebih saat melihat dua lembar foto sang akhwat. Diulang-ulang kembali, sama saja. Ada rasa kurang berkenan yang muncul terus menerus dan
mengganggu. " Gimana Akhi, sudah siap untuk meneruskan prosesnya ? "
Pertanyaan sang murobby menambah kegalauannya. Keringat dingin mulai menetes
dari dahinya. Ia menunduk agak lama. Sang akhi merenung sejenak, berinstropeksi. Sejurus kemudian ia mulai mengangkat kepala. Tersenyum. Baru sekarang ia tahu alasan mengapa dua akhwat yang terdahulu menolak dirinya: kriteria fisik !! Kriteria fisik , kedengarannya memang lucu. Tapi ternyata ia selalu menjadi begitu
kontemporer. Selalu saja ada di mana saja dan kapan saja. " Gimana akhi, bisa di jawab sekarang ?? " Dengan sedikit berdehem, sang akhi menjawab,
" Afwan Ustad, setelah saya pikir-pikir, nampaknya saya " masih mau
melanjutkan sekolah " saja ustad ... " Lemes tubuh sang murrobby. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati ia berkata : Dasar aktifis jaman kini, masih teguh mempertahankan kriteria fisik !!!. Andakah salah satunya ?

Kalo Lucu Jangan Ketawa ya Usahakan Senyum Aja

From Akhwat
Untuk seseorang yang akan menjadi suamiku,

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Aku di sini...
Tetap menunggumu...
Walau hujan di luar sana tak kunjung reda...
Walau pelangi enggan muncul...
Walau inginku pergi dari tempat ini...
Namun aku sudah berjanji...
Aku akan tetap menunggumu di sini

Aku tak pernah bosan untuk menunggu kehadiranmu
Karena saat-saat menunggumu adalah saat-saat yang paling seru
Di mana aku berkutat dengan hal lain
Berjuang demi ‘izzah kaum muslimin
Berteriak menyuarakan pembebasan umat muslim
Pembebasan dari paham-paham busuk dan sistem kufur
Dan di sela-sela perjuanganku, masih kumenunggumu...

Ya Akhi,
Aku belum jera menanti dirimu...
Di mana pun engkau berada...
Allah pasti akan mempertemukan kita suatu hari nanti...
Kalau tidak di dunia, akan kujemput engkau di akhirat nanti...
Namun asa untuk segera bertemu denganmu tak akan pernah putus
Hingga nyawa ini ikut terputus...

Akhi fillah,
Ingatkah surat cinta yang kukirimkan padamu beberapa waktu yang lalu?
Ya, aku masih wanita itu...
Aku memang memilihmu karena engkau adalah pejuang Islam
Namun bukan berarti aku tak mencintai dirimu...
Aku sungguh mencintaimu...
Tapi maafkan aku karena engkau harus jadi nomor tiga...
Setelah Allah dan rasulNya
Engkau rela, kan?

Calon mujahidku,
Aku tak memintamu datang secepatnya
Walaupun aku tak bisa berbohong...
Merindukanmu adalah penyiksaan untukku...
Tapi aku memintamu untuk datang tepat pada waktunya...
Agar segalanya terasa lebih manis...
Untukmu...untukku...untuk keluarga yang akan kita bentuk...

Wahai jundullah,
Bila saat ini engkau belum bisa menemuiku karena harus berjuang
Membela agama Allah...menegakkan dinul haq...
Maka aku merelakan engkau terus berjuang
Aku akan tetap di sini menantimu dengan sabar dan setia...
Dan bila engkau harus mengorbankan jiwamu demi tegakknya kalimat Allah di bumi ini
Maka aku merelakan malam-malamku di dunia bersamamu...
Ditukar dengan pertemuan kita di syurga Allah (amin!)

Calon suamiku,
Wujudmu kini masih tertutup tabir....
Sifatmu masih menjadi misteri bagiku...
Tapi itu bukan masalah....
Karena aku yakin engkaulah yang terbaik...
Engkaulah yang meminjamkan tulang rusukmu padaku...
Maka...hati ini pasti akan mengenali dirimu...
Saat kita bertemu nanti....
Entah di mana....

Akhi fillah,
Datanglah saat engkau sudah siap
Mengarungi lika-liku kehidupan...
Denganku di sisimu...
Semoga Allah memudahkan urusan kita...

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته


أختك في الله
شفاء القلب الشهيدة

Doa Malaikat Untukmu

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Story]
Ketika Akhwat Menyatakan Cinta

Diskusi siang itu bisa dibilang cukup menarik. Setelah selesai menunaikan sholat dhuhur, sejenak kusandarkan tubuhku di tiang masjid Al Itqon sembari bercengkrama bersama para aktivis kampus. Hadir dalam forum halaqoh itu ketua DPM, mantan ketua DPM, satu anak dari KAMMI dan aku sendiri.

Awalnya, kami berempat membicarakan seputar pacaran terselubung di dalam tubuh jama’ah (yang jelas bukan jama’ah sholat dhuhur atau jama’ah tabligh ^_^). Tren yang ada sekarang, kata mereka, adalah fenomena angkat-mengangkat adik-kakak antar anggota ikhwan dan akhwat.

"Wuih, asyik dong," selorohku.

Lalu aku berusaha menjelaskan kepada mereka tentang fenomena ini. Kukatakan kepada mereka bahwa bukankah sebenarnya kita ini memang sudah sebagai saudara? Bukankah Allah telah berfirman, innamal mukminuuna ikhwah (sesungguhnya antar orang Islam itu bersaudara). Jadi, memang sudah seharusnya kita memposisikan sesama muslim itu sebagai saudara kita meskipun kita tidak mengatakan bahwa you itu kakakku or gue itu adikmu.

Pertanyaannya adalah, ngapain juga mereka melakukan upacara angkat-mengangkat kakak-adik segala? Apakah ketika setelah dilakukan deklarasi kakak-adik itu lantas aturan-aturan main dalam pergaulan dengan non-mahram kemudian bisa ditanggalkan atau bisa lebih dicairkan? Yang dulunya non-mahram bakal menjadi mahram, gitu? Mana bisa brur!

Aku yakin deklarasi itu juga berawal dari intensitas pertemuan antar mereka (ikhwan-akhwat yang saling mengangkat saudara itu) yang cukup tinggi, sehingga mereka sudah melewati proses ta’aruf, tafahum, takaful,… akhirnya tahabbub dan mungkin juga tasyabbuh, he-he. Yah, intinya tetap waspada dengan adanya udang dibalik tahu, eh batu ^_^.

Bisa jadi ini adalah nama dan bentuk baru dari HTSan. Ciri-cirinya juga cenderung sama. Mereka cenderung nggak peduli alias cuek bebek dengan kontrol sosial (kontrol jama’ah) dan justru dengan bangganya berkata, "I don’t care." (He-he, SBY banget neh… Maklum, pendukungnya… ^_^).

Yah, yang pasti aku berada dalam posisi kontra dengan deklarasi-deklarasi semacam itu. Aku dulu neh, ketika masih di Bening, biasa juga koq menyapa dengan sebutan-sebutan Dek Ani, Dek Widya, Dek Holy, Mbak Ida… datar-datar saja, biasa-biasa saja. Nggak perlu pake deklarasi kakak-adik segala, nggak perlu special relationship. Yang lebih tua kuanggap sebagai kakak atau embak, yang lebih muda kuanggap sebagai adik. Selesai, finish. Hak non-mahram tetep berjalan, ukhuwah bisa tereratkan.

Selanjutnya, diskusi kami lanjutkan dengan tema yang lebih hot. Mamat, Sang Ketua DPM, memaparkan fakta akan banyaknya akhwat lanjut usia (30an tahun keatas maksudnya ^_^) yang galau dan cemas lantaran statusnya yang masih virgin. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini sebenarnya bukan mutlak salah para ikhwan yang nggak care dengan akhwat-akhwat tersebut. Akan tetapi pihak akhwat seharusnya juga harus bisa lebih proaktif dalam menjemput jodohnya. Jika memang sudah ada ikhwan yang dipandang mampu dan memenuhi kriteria, maka tidak ada salahnya jika para akhwat tersebut menawarkan diri kepada ikhwan tersebut.

Hmm… aku sih sepakat-sepakat saja. Memang benar apa yang dikatakan Mamat tadi. Budaya lokal yang cenderung patrimonial tampaknya telah membelengu budaya syari’at untuk diterapkan. Syari’at menempatkan ekualitas gender dengan begitu anggunnya. Islam mampu menangkap sinyal-sinyal kegalauan semacam ini sehingga lahirlah aturan-aturan syari’at yang mengoreksi kealpaan aturan-aturan budaya lokal yang cenderung tidak sesuai dengan fitroh manusia.

Dalam aturan Islam, tidak ada salahnya ketika seorang akhwat menawarkan diri kepada seorang ikhwan yang dipandang telah mampu atau memiliki kriteria-kriteria yang diinginkan. Lembaran sejarah Islam telah mengkisahkan seorang Ummul Mukminin, Khadijah ra., yang berinisiatif untuk menawarkan dirinya kepada manusia termulia di dunia, Muhammad SAW. Bayangkan jika Khadijah waktu itu mengikuti budaya arab jahili yang sangat patrimonial (bahkan cenderung menghinakan wanita) dan bayangkan pula jika ia bersikap malu-malu mau ^_^ sehingga tidak berani untuk "nembung" ke baginda Rasul, sang manusia utama. Maka, niscaya pernikahan tidak akan terjadi dan kesempatan emas pun terlewati. Dan jika hal itu terjadi waktu itu, maka aku mo bilang ke bunda Khadijah, "Kaciaaan dech lo…" ^_^

Kisah penawaran diri wanita ini bukanlah barang langka dalam sejarah Islam. Setelah Khadijah mangkat, Rasulullah SAW. tercatat pernah menerima tawaran seorang sahabiyyah. Ketika itu datang seorang wanita yang berkata kepada rasul, "Ya Rasululah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu". Lantas Rasulullah melihat wanita itu keatas dan kebawah, setelah itu beliau diam. Tampaknya sang wanita paham akan isyarat Rasul tadi sehingga iapun tertunduk. Yes my sister, Rasul menolak "tembakan" yang datang dari akhwat tadi. Nah, kalo’ kamu-kamu pengin tahu kisah selengkapnya, silakan baca bukunya Fauzil Adhim yang judulnya "Saatnya Menikah", terbitan Pro-U Jogja.

Intinya, nggak ada salahnya koq jika "tembakan" itu datangnya dari pihak akhwat. Tidak ada istilah cewek norak, agresif, nggak punya harga diri atau ‘iffah dalam hal ini. Yang norak itu justru kalo’ ada akhwat yang sudah siap nikah terus nggak ngelakuin apa-apa buat cari ikhwan yang sholih. Emang sih jodoh itu ditangan tuhan, tapi jika nggak kamu minta ya nggak bakal dikasih juga. Ingat, Allah bilang, "ana ‘inda dzonni ‘abdi" (Aku sesuai dengan persangkaan (keinginan) hambaku). Allah juga berfirman, "innallaha la yughoyyiru ma biqoumin hatta yughoyyiru ma bi anfusihim" (Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka berusaha mengubah keadaan mereka).

Dalam masalah menjaga harga diri atau ‘iffah dikalangan para akhwat, juga terdengar kabar bahwa kalo’ akhwat menikah itu hendaknya dengan ikhwan yang belum dikenal sebelumnya. Supaya lebih suci katanya. He-eh, aku bilang, "Mbak… mbak, nggak usah ideal-ideal banget lah. Nggak usah berlindung dibalik kesucian diri atau justru sok suci diri dech, Utsman bin ‘Affan saja menikah dengan Ruqayyah yang sudah dikenal akrab sejak masa kecilnya, demikian pula kisah cinta Rasulullah dengan ‘Aisyah. Bukankah ini justru akan lebih melanggengkan rasa cinta diantara mereka? Bagiku, menikah dengan rasa cinta tentu akan lebih bermakna. Ya minimal khan nggak usah nadhor lagi…" ^_^


Teman, diskusi singkat tadi dengan nyata telah menyentuh titik sadarku bahwa ternyata ada sebagian para akhwat, kurang tahu syari’at dan mempersulit diri dalam proses pernikahan sehingga berakibat fatal bagi masa depannya. Jadi, bagi para akhwat yang sudah siap tuk married, maka jangan ragu lagi… katakan cinta…

Wanita dan Tulang Rusuk

Salah satu konsep dalam Islam yang sering dipermasalahkan oleh kaum feminis adalah konsep penciptaan manusia. Mereka tidak setuju dengan hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa kaum Hawa tercipta dari tulang rusuk kaum Adam. Kaum feminis menilai bahwa Hadits ini mengandung unsur misoginik yang bisa mendiskreditkan kaum wanita. Hadits yang dimaksud adalah riwayat dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda, "Nasihatilah perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kau luruskan dengan paksa, ia akan patah. Dan jika kau biarkan, ia akan tetap bengkok. Karenanya, nasihatilah perempuan." (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Riffat Hasan, salah seorang tokoh feminis asal Pakistan, menyatakan bahwa Hadits yang secara eksplisit menyebutkan perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bernilai dhaif dari segi sanad karena dalam hadits tersebut terdapat empat perawi yang tidak dapat dipercaya. Empat perawi tersebut adalah Maisarah al-Asyja’i, Haramalah Ibn Yahya, Zaidah, dan Abu Zinad. Riffat mendasarkan penilaiannya itu kepada adz-Dzahabi dalam kitabnya Mizan al-I’tidal Fi Naqd ar-Rijal.

Dari segi matan, Riffat juga menyatakan bahwa Hadits ini tidak shahih karena bertentangan dengan ayat Al-Qur’an. Ia menilai Hadits tentang tulang rusuk ini bertentangan dengan konsep Al-Qur’an mengenai penciptaan manusia dalam bentuk terbaik (fi ahsani taqwim). Tetapi Riffat tidak menjelaskan secara detail tentang penafsiran fi ahsani taqwin sebagaimana ia gunakan dalil ini untuk melemahkan matan Hadits tentang tulang rusuk.

Sebelum menanggapi pernyataan Riffat Hasan ini, penulis ingin sedikit menjelaskan tentang bagaimana para ulama memandang akan hal ini. Di dalam Islam, para ulama sepakat bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. az-Zamakhsyari, al-Alusi, dan Sa’id Hawa sepakat menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan nafs wahidah dalam surat an-Nisa ayat 1 adalah Adam, dan zaujaha adalah istrinya (Hawa). Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang sebelah kiri.

Argumen yang mereka kemukakan berdasarkan; pertama, lafadz min yang terdapat pada kalimat wakhalaqominha zaujaha adalah min tab’idhiyah, yang dengan demikian berarti Hawa diciptakan dari sebagian Adam. Kedua, berdasarkan Hadits Rasulullah SAW riwayat Bukhari Muslim yang menyebutkan secara eksplisit penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam. Para imam Hadits dan ahlinya dari dulu sampai sekarang juga sepakat akan keshahihan dan kedudukannya sebagai hujjah.

Menanggapi tentang pernyataan Riffat, menarik sekali apa yang ditulis oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas dalam tesis masternya yang meneliti tentang isu-isu feminisme dalam tinjauan tafsir Al-Qur’an, yang mana di dalamnya beliau meneliti secara detail tentang pernyataan Riffat Hasan terhadap Hadits tulang rusuk tersebut. Beliau menyatakan bahwa Riffat tidak teliti dalam merujuk kitab tersebut. Apabila ada nama perawi yang sama, seorang peneliti harus meneliti perawi mana yang dimaksud. Bisa dengan meneliti nama orang tuanya, nama keluarga, atau melihat siapa murid dan guru-gurunya. Sangat gegabah kalau hanya melihat nama yang sama lalu diputuskan dialah orang yang dimaksud. Sama, keempat perawi Bukhari dan Muslim tersebut tidak pernah didhaifkan oleh adz-Dzahabi, bahkan sebaliknya.

Maisarah yang didhaifkan oleh adz-Dzahabi adalah Maisaroh ibn Abd Rabbih al-Farisi, seorang pemalsu Hadits. Sedangkan Maisarohnya Bukhari dan Muslim adalah Maisarah ibn ‘Imarah al-Asyja’i al-Kufi, bukan yang didhaifkan oleh adz-Dzahabi. Begitu juga tentang Haramalah ibn Yahya oleh adz-Dzahabi sendiri sebelum namanya diberi kode مح yang menurut muhaqqiq-nya kode itu menunjukkan bahwa nama yang berada di depan kode ini termasuk perawi yang tsiqqah. adz-Dzahabi sendiri menilainya sebagai salah seorang imam yang dipercaya.

Zaidah yang didhaifkan oleh Dzahabi adalah: 1. Zaidah ibn Salim yang meriwayatkan dari Imran ibn Umair, 2. Zaidah ibn ar-Riqad yang meriwayatkan dari Ziyad an-Numairi, dan 3. Zaidah lain yang meriwayatkan dari Sa’ad. Zaidah yang terakhir ini didhaifkan oleh Bukhari sendiri. Kalau Bukhari sudah mendhaifkan, mustahil dia akan tetap memakainya. Zaidahnya Bukhari dan Muslim adalah Zaidah ibn Qudamah ats-Tsaqafi, yang tidak didhaifkan oleh adz-Dzahabi. Sedangkan Abu Zinad perawi Bukhari dan Muslim adalah Abdullah ibn Zakwan yang oleh adz-Dzahabi sendiri dinilai Tsiqah Syahir. Padahal dalam al-jarh wa ta’dil ungkapan Tsiqah Syahir ini termasuk kepercayaan yang tinggi.

Dengan demikian dari segi sanad, Hadits tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk itu bernilai shahih. Lalu bagaimana tentang pernyataan Riffat bahwa matan Hadits ini bertentangan dengan Al-Qur’an terutama dengan ayat fi ahsani taqwim?

Dr. Daud Rasyid mengatakan juga dalam bukunya bahwa kritik Hadits yang dilakukan oleh Riffat ini lebih keras dari pada serangan yang dilancarkan oleh kaum orientalis. Dilatarbelakangi oleh kritik terhadap Hadits ini, sebuah lembaga sekuler Indonesia mengundangnya sebagai pembicara sebuah seminar dengan dukungan publikasi media yang gencar. Dari sinilah tampak ada sebuah konspirasi trans-nasional dalam menyebarkan virus-virus pemikiran di tubuh umat Islam. Hal ini tampak jelas ketika Riffat menutup makalahnya dengan menuliskan sebagai berikut:

“Melihat betapa pentingnya masalah ini, maka sangat perlu bagi setiap aktivis hak asasi perempuan Islam untuk mengetahui keterangan dalam Al-Qur’an bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan sama, telah diubah oleh Hadits. Dengan demikian, satu-satunya cara agar anak cucu perempuan (Hawa) dapat mengakhiri sejarah penindasan yang dilakukan oleh anak cucu Adam ini adalah dengan cara kembali ke titik mula dan mempertanyakan keshahihan Hadits yang menjadikan perempuan hanya makhluk kedua dalam ciptaan, tetapi pertama dalam kesalahan, dosa, cacat moral dan mental. Mereka harus mempertanyakan sumber-sumber yang menganggap mereka bukan sebagai dirinya sebagaimana seharusnya mereka ada, tetapi hanya alat untuk kepentingan dan kesenangan laki-laki...” (Ulumul Qur'an, no. 4, tahun 1990, hlm. 55)

Islam memandang perempuan tidak seperti apa yang digambarkan oleh Riffat dalam Hadits ini yang menurutnya bersifat misoginik. Kalau kita melihat bagaimana posisi perempuan pra-Islam, kita akan tahu bahwa Islam sangat memuliakan perempuan dan mengangkat kedudukannya dari kehinaan dan perbudakan yang tak terbayangkan pada masa umat-umat sebelumnya.

Dr. Abu Sarie Muhammad Abdul Hadi, dalam bukunya Wa 'Asyiruhunna bil Ma'ruf menyatakan bahwa orang Arab pra-Islam bersedih dengan kelahiran anak perempuan, karena merupakan bencana dan aib bagi ayah dan keluarganya, sehingga mereka membunuhnya, tanpa undang-undang dan tradisi yang melindunginya.

Al-Qur'an juga telah mencatat sikap jahiliyah mereka terhadap perempuan dalam Surat An-Nahl ayat 58-59 yang artinya, "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu." Demikianlah posisi perempuan dalam masyarakat sebelum Islam.

Ketika datang, Islam memuliakan, menjaga, dan memberi perempuan hak-hak yang tidak dinikmati sebelumnya. Allah mengakui hak sosial dan ekonomi perempuan serta memerintahkan mereka untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar seperti halnya laki-laki. Allah berfirman dalam Surat at-Taubah ayat 71 (yang artinya); "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar."

Berdasarkan Kesimpulan Diatas Ane cuma Ambil Kesimpulan

1. Pertama dari segi ilmu pengetahuan tau gak fungsi tulang rusuk?? tulang rusuk itu melindungi organ tubuh kita yang vital seperti jantung dan paru-paru. klo gak ada tulang rusuk apa jadinya?? yah kita dapet titel tanpa susah-susah sekolah yaitu Alm alias almarhum hohohoh~~~ dan karena berupa tulang maka tulang rusuk itu keras dan apabila dikaitkan dengan wanita maka wanita itu adalah mahluk yang mampu melindungi dan menjaga siapapun (contoh kasus seorang ibu yang rela mati-matian demi anaknya, selain itu wanita umumnya lebih gigih dalam bertahan hidup seperti sifat tulang yang keras lainnya halnya dengan laki-laki yang meskipun keliatan kuat dari luar akan tetapi dalam dirinya terdapat kelemahan dan hanya wanita yang tepat yang dapat menutupi kelemahannya itu...

2. Tulang rusuk berada di bawah kepala tau gak maskudnya?? itu artinya wanita itu diciptakan bukan untuk memimpin akan tetapi sebagai pendamping laki-laki untuk memimpin hehehe~~~ (ni gak ada hubungannya sama politik y)

3. Tulang rusuk berbentuk melengkung artinya apa hayoooo... itu artinya klo wanita itu adalah sosok mahluk yang harus diperlakukan dengan lembut karena ibarat kita klo mau meluruskan benda bengkok yang keras maka kita harus memperlakukan perlahan2 dan lembut dan wanita pun harus diperlakukan demikian agar dapat kita mendapatkan hatinya (menyamakan visi dan misi kita dalam menjalin hubungan = meluruskan niat)

4. Tulang rusuk dekat dengan jantung dan jantung sering digambarkan dengan apa hayo? ya betul dengan HATI!! jadi wanita itu harus disayangi sepenuh hati..

5. Nah ini yang paling penting tulang rusuk terletak di atas perut dan di atas alat kelamin maksudnya apa??? itu memandakan bahwa wanita itu bukan sebagai alat pemuas nafsu belaka!!

"jadi sayangilah wanita dengan tulus dan dengan hatimu bukan dengan nafsumu"

^_^ okeh
--
Suatu hari ada seorang wanita yang ingin mencari jodoh, ia mendambakan seorang lelaki yang telah ia kriteriakan, akhirnya setelah berapa lama ia mencari dan tidak bertemu ia menyerah hingga ia pergi ke toko yang menjual lelaki-lelaki yang siap menjadi suami.

Setelah sampai di toko suami, ia masuk kelantai 1, ia sempat membaca tulisan di atas " KUALITAS BERIMAN, ALIM, TANGGUNG JAWAB " ia bergumam dalam hati, " cocok, sesuai yang ku harapkan "

Ia melihat tangga lantai 2 dan ia pun menaikinya, ia membaca tulisan di pintu masuk

" KUALITAS BERIMAN, ALIM, TANGGUNG JAWAB, SUDAH PUNYA PEKERJAAN HALAL "

Sang wanitapun bergumam dalam hati, " ini dia, sudah punya pekerjaan, jadi aku nggak usah repot-repot "

Ia mencari- cari suami yang ia cari, tak sengaja ia mendapati tangga lantai 3 dan ia pun naik ke lantai 3, ia sempat juga membaca tulisan di atas pintu masuk

" KUALITAS BERIMAN, TAK MENYEKUTUKAN ALLAH, ALIM, BERPENDIDIKAN TINGGI, TANGGUNG JAWAB, SUDAH PUNYA PEKERJAAN HALAL. "

di dalam hati ia bergumam, " ini lebih dari yang aku harapkan, aku akan terus naik sampai aku menemukan yang terbaik"

akhirnya ia masuk ke lantai 4 diatas pintu ia membaca tulisan

" KUALITAS BERIMAN, ALIM, BERTANGGUNG JAWAB, MEMPUNYAI PEKERJAAN HALAL, BERPENDIDIKAN TINGGI, MEMPUNYAI USAHA YANG MAJU."

Sang wanitapun bergumam dalam hati, " ini lebih dari yang aku harapkan, aku harus naik ke lantai 5 "

Setelah sampai di lantai 5 ia membaca tulisan yang ada di atas pintu masuk

" KUALITAS BERIMAN, ALIM, BERTANGGUNG JAWAB, MEMPUNYAI PEKERJAAN HALAL, BERPENDIDIKAN TINGGI, MEMPUNYAI USAHA YANG MAJU, SIAP MENIKAH, MASIH BUJANGAN. "

Sang wanitapun bergumam riang dalam hati, " alangkah beruntungnya aku, aku harus mendapatkan yang lebih dari ini, aku harus terus naik. " hatinya tertawa bangga, akhirnya ia mencari tangga lantai 6, dengan semangat ia menaiki tangga dan hati tertawa.

Sampai di lantai 6 ia mencari pintu masuk, setelah lama mencari ia menemukan pintu tersebut dan ia pun membaca tulisan di atas pintu,

" ANDA ADALAH ORANG YANG KE 100.999.891 DARI ORANG-ORANG YANG TAMAK DAN TAK PERNAH BERSYUKUR ATAS APA YANG TELAH DIBERIKAN PADA AWAL "

Sang wanitapun terkejut dan ia mencari tangga turun ke lantai 5, tapi apa yang ia temukan, pintu tangga telah tertutup rapat dan ia terpaku di lantai 6. ia menyesal karena tidak syukurnya ia, itu lah orang yang tak pernah puas.......

Pernikahan Siri.

Terkait kepastian hukum tentang pernikahan siri, faktanya ikatan pernikahan tanpa legalitas ini lebih banyak merugikan pihak istri dan anak. Banyak kasus yang membuktikan dampak buruk pernikahan siri dan kontrak, seperti ketidakpastian hak, pengabaian, atau bahkan penelantaran.

Dalam nikah siri seorang perempuan cenderung disepelekan, dan lelaki bertindak semaunya terhadap perempuan yang dinikahinya tanpa catatan legalitas. Kekerasan fisik dan seksual kemudian menjadi dampak yang paling sering terjadi dari pernikahan siri.

Adapun motif yang melandasi pernikahan siri adalah uang, daya tarik fisik, dan rayuan. Dan, tak hanya perempuan lugu yang kurang akses informasi yang menjadi korban namun juga perempuan berpendidikan dengan pengetahuan cukup pun bisa terpedaya, terutama karena faktor uang, kemapanan yang akarnya kembali kepada keinginan untuk hidup nyaman dan mewah.

Sementara alasan lelaki menikahi siri pasangannya lebih banyak karena ketidakpuasan dari istri sahnya. Ketidakpuasan itu umumnya terkait dengan fisik istrinya dan juga seksual.

Dalam pernikahan siri, baik perempuan (yang cenderung sebagai korban) maupun lelaki menyadari tindakan mereka dan sebagian tahu benar resikonya. Meski begitu perempuan yang sadar resiko nikah siri akhirnya tak tahan dengan kondisinya. Kemudian mereka melarikan diri dari situasi tersebut. Bagi korban perempuan lain yang tertipu oleh si lelaki, seringkali lelaki mengaku lajang sebelum mengajak nikah siri, pengacuhan, penelantaran, dan kekerasan kemudian menjadi dampak negatif dari nikah siri.

Istri dari pernikahan siri cenderung lebih dijadikan pelampiasan sang suami dari problematika kehidupan kesehariannya. Kekerasan fisik paling sering didapatkan korban, di luar pemenuhan kebutuhan lain atas permintaan dari suami. Kondisi perempuan yang menikah siri cenderung mengikuti keinginan pasangan lantaran motif awal pernikahan mereka.

Perempuan dihadapkan dengan berbagai resiko dan kebanyakan menjadi korban pernikahan siri. Pemahaman yang mendalam tentang hak perempuan, perubahan mindset tentang hidup dalam kemewahan, serta kultur yang menempatkan perempuan pada posisi subordinan seperti menuruti kata orang lain dan kebergantungan terhadap pasangan, menjadi sebagian akar masalahnya.

Tidak adil jika kemudian dampak negatif dari pernikahan siri digeneralisasi terjadi kepada semua pelakunya. Namun kasus yang terjadi membuktikan bahwa perempuan cenderung mengalami ketidakadilan. Lebih lagi tak adanya ikatan hukum yang bisa menjadi alat untuk mengadukan dan menyelesaikan kasus di meja hijau.
---------------------
Perkawinan Kontrak

Kawin Mut’ah atau kawin wisata atau yang lebih populer disebut kawin kontrak adalah kawin yang dibuat atas dasar kontrak atau perjanjian, yang jangka waktunya terserah perjanjian yang disetujui oleh kedua belah pihak. Boleh satu tahun, boleh satu bulan, boleh satu hari, boleh satu jam dan boleh sekali main.

Sedang jumlah wanita yang di-Mut’ah terserah kepada si laki-laki, boleh berapa saja, terserah kekuatan dan minat si laki-laki.

Mereka tidak saling mewarisi bila salah satu pelakunya mati, meskipun masih dalam batas waktu yang disepakati. Juga tidak wajib memberi nafkah dan tidak wajib memberi tempat tinggal.

Mut’ah dilakukan tanpa wali dan tanpa saksi, begitu pula tanpa talaq dan habis begitu saja pada akhir waktu yang disepakati.

Pelakunya boleh perjaka atau duda, bahkan yang sudah punya istri. Sedang si-wanita boleh masih perawan atau sudah janda.

Adapun tempatnya boleh dimana saja, baik didalam rumah sendiri maupun diluar rumah.

Dalam buku fiqh, istilah kawin wisata atau kawin kontrak tidak dikenal. Barangkali hanya para hidung belang saja yang menghalalkan kawin kontrak sebagai usaha untuk menghindari perzinaan.

Padahal prinsip pernikahan adalah hubungan yang langgeng antara suami-istri, keturunan, cinta kasih, dan tanggung jawab bersama dalam mendidik anak.

Pernikahan bukanlah semata-mata menikmati hubungan seksual, sehingga seolah-olah menjadikan perempuan sebagai ” BARANG”.

Banyak mudarat dari kawin kontrak seperti melahirkan tanpa pernikahan sah, penyebaran kerusakan dan menyebarnya banyak penyakit.

Seharusnya semua pihak yangg berwenang ikut membantu menanggulangi kawin kontrak dan menyerukan agar para ulama mengeluarkan fatwa yang melarang kawin kontrak tersebut.

Pernikahan yang sah memerlukan syarat-syarat tertentu diantaranya ijab kabul, pernyataan dari dari kedua pihak atau calon suami istri, dihadapan wali dari calon istri.

Kawin kontrak dalam hukum Islam dilakukakn karena diindikasikan sebagai pelacuran atau perdagangan manusia terselubung yang mencari pembenaran. Istilah kawin kontrak digunakan agar tidak dianggap asusila.

Seyogyanya pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi masyarakat dan menangkal merebaknya praktik perdagangan manusia di-Indonesia yg salah satunya melalui UU trafficking.

Bagaimana pendapat syariat Islam soal kawin kontrak ? Jelas kawin kontrak ini di larang oleh agama, karena kawin kontrak ini “menyerupai” pelacuran dan syarat-syarat yang harus diadakan untuk melakukannyapun jauh dari syarat-syarat pernikahan secara Islami

--------------------

Poligami vs Nikah Siri atau Kawin Kontrak

Kalau melihat uraian di atas baik perihal nikah siri maun kawin kontrak sudah jelas kedua tindakan tersebut sama-sama merugikan pihak istri dan hanya bermotif nafsu belaka, jauh dari tujuan utama esensi pernikahan itu sendiri.

Karena tujuan utama pernikahan adalah membentuk rumah tangga yang bahagia, langgeng sampai ajal menjemput nantinya.

Melihat hal-hal mudharat yang ditimbulkan oleh nikah siri mapun kawin kontrak maak sebaiknya dihindari dan sudah sepatutnya rencana pemerintah yang akan mengenakan sebagai tindakan pidana bagi kedua jenih perkawinan tersebut patut di dukung semua pihak.

Kalaupun seorang laki-laki tidak bisa menghindar dari suatu perkawinan yang ke-2 ataupun ke-3 , bahkan ke-4 (berpoligami) karena suatu kondisi yang sifatnya tidak bisa dihindari, maka alangkah baiknya dilakukan secara resmi, bukan dilakukan dengan cara nikah siri atau bahkan kawin kontrak.

Sehingga dengan berpoligami secaar resmi dan mendapat ijin dari istri tua, maka kondisi psikologis dan sosial dari hubungan individu dan keluarga dari pihak laki-laki dan wanita akan tetap terjaga kehangatannya, tanpa tercederai secara fatal. Dan kalaupun ada anak keturunan dari perkawinan poligami ini akan jelas nasab dan nasibnya karena ada seorang ayah yang akan bertanggung jawab.

Sekali lagi punilis tekankan bahwa perkawinan poligami hanya bisa dilakukan jika ada sesuatu hal yang tidak bisa dihindari, misalnya pihak istri tidak bisa melayani “nafsu” suami yang masih membuthkan pelampiaskan, dan pihak istri sendiri bersedia di madu dengan kesadarannya sendiri tanpa tekanan. Dan pernikahan poligami ini dilaksanakan secara resmi dicatatkan di Kantor Urusan Agama.

Jadi Mau Pilih Yang mana Bro Sus Om Tante? ^_^
dean
Dean merupakan murid kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah(SD) yang terkenal sebagai seorang anak yang sangat penurut kepada orang tuanya. Suatu hari, ketika akan berangkat ke sekolah Dean pun dinasehati oleh umminya.

“Dean, kalau pulang sekolah langsung pulang ya, jangan kemana-mana!” pesan Umminya Dean.

“Iya mi…!” jawab Dean mengangguk, lalu mencium tangan ummiya. Dean pun berangkat ke sekolah.


Di sekolah, Dean juga merupakan anak yang cerdas karena setiap pelajaran selalu dia perhatikan dengan baik. Hari itu, pada jam pelajaran ke tiga budi menerima pelajaran agama Islam dari Ustad Ahmad.

Beberapa saat kemudian Ustad Ahmad menjelaskan tentang surga & neraka. Setelah sejam kemudian, untuk menguji kepahaman para muridnya, Ustad Ahmad iseng-iseng bertanya :

“Hayoo anak-anak, siapa yg ingin ke neraka…?” tanya Ustad Ahmad.

Karena paham, semua murid tidak ada yang mengacungkan telunjuknya. Ustad Ahmad pun senang karena merasa bahwa murid-muridnya sudah mulai paham pelajaran yang diberikannya tadi. Untuk lebih meyakinkan dirinya, kemudin Ustad Ahmad bertanya sekali lagi.

“Kalu begitu sekarang Ustad ingin tanya lagi, siapa diantara kalian yang ingin ke surga ?” tanya Ustad Ahmad tersenyum. Dan seketika itu pula semua murid mengacungkan telunjuk mereka KECUALI Dean. Merasa heran, Ustad Ahmad pun bertanya kepada Dean.

“Dean, kok tidak mau ke surga ?” selidik Ustad Ahmad.

“Tidak tad…!” jawab Deani dengan tegas penuh keyakinan.

” Lho, memangnya mengapa Dean tidak mau ke sana ? Surga itu tempat yg paling indah, ada taman yang luas, sungainya berisi susu dan madu.. Mantap to..” kata Ustad Ahmad.

“Emang enak sih tad, tapi pesan Ummi tadi pagi, kalau pulang sekolah Dean jangan kemana-mana. Dean tidak mau jadi anak durhaka dengan mengingkari janji, jadi Dean tidak mau ke Surga” jawab Dean meyakini Ustad Ahmad bisa menerima alasannya.

© Segala puji dan syukur hanya untuk Allah Tuhan alam semesta. Ya Allah limpahkanlah solawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, pembuka pintu rahmat Allah, Sebanyak pengetahuan Allah, solawat dan salam yang selalu tercurah sekekal kerajaan Allah, dan juga kepada keluarga dan para sahabatnya.
© Ya Allah jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang selalu mendirikan sholat, Ya Allah, kabulkanlah doaku.
© Ya Allah jadikanlah isteri dan keturunan kami sebagai buah hati kami dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.
© Ya Allah berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan agar aku dapat beramal soleh yang Engkau ridhoi, jadikanlah keturunanku orang-orang yang soleh, sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
© Aku serahkan anak-anakku di bawah perlindungan kalimat Allah yang sempurna dari ganguan setan, mara bahaya dan dari pandangan yang penuh kedengkian.
© Ya Allah berkahilah anak-anakku, janganlah Engkau celakan mereka, karuniailah aku ketaatan mereka, jadikanlah mereka buah hati Nabi Muhammad SAW dan kedua orang tua mereka.
© Ya Allah berilah mereka ilmu para arifin, jadikanlah mereka faqih (alim) dalam agama, ajarkan kepada mereka pengetahuan takwil, dan tuntunlah mereka ke jalan yang lurus dan benar, dan jadikanlah mereka ulama yang mengamalkan ilmunya, dan masukkanlah mereka ke dalam golongan hamba-Mu yang saleh.
© Ya Allah tumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, dan jadikanlah mereka orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.
© Ya Allah berilah mereka taufik untuk menyintai-Mu, mentaati-Mu dan mencari keri-dhoan-Mu. Ajarkanlah kepada mereka semua yang bermanfaat dan berilah mereka manfaat dari semua yang Kau ajarkan.
© Ya Allah lindungilah mereka dari segala fitnah, baik yang nyata maupun tersembunyi, dan juga dari segala macam kejahatan.
© Ya Allah mudahkanlah urusan mereka, dan perbaikilah keadaan, perbuatan dan niat mereka .
© Ya Allah berilah mereka kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat.
© Ya Allah bantulah mereka agar dapat mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baik amal ibadah.
© Ya Allah akhirilah semua urusan mereka dengan keberhasilan dan selamatkanlah mereka dari kehinaan dunia dan akhirat.
© Ya Allah jadikanlah pendengaran, pandangan dan kekuatan mereka menyenangi jalan petunjuk-Mu, dan jadikanlah hawa nafsu (keinginan) mereka patuh pada ajaran yang dibawa oleh kekasih-Mu Muhammad SAW.
© Ya Allah selamatkanlah mereka, berilah kesehatan dan maafkanlah mereka, panjangkan umur mereka dalam ketaatan dan keridhoan-Mu, terimalah amal mereka, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Engkaulah yang patut megabulkan doa. Dan limpahkanlah solawat dan salam kepada Sayyida Muhammad SAW serta kepada para keluarga dan sahabatnya.

Walhamdulillaahi Rabbil ‘Alamin.( “Birrul Walidain” Karya Syeikh Muhammad Abil Hibb Al-Hadharami At-Tarimi)

Afwan Kalo Kisah di Atas Bukan Dari Kitabnya ya
Cuma Tambahan Penulis Aja ^_^

Virus-Virus Ukhuwah
Mencintai sesama mukmin dan mengikat tali ukhuwah (persaudaraan) merupakan suatu perbuatan yang amat mulia dan sangat penting. Allah SWT menyatakan persaudaraan sebagai sifat kaum mukmin dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, seperti dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujuraat : 10)

Persaudaraan yang terjalin di antara kaum mukmin sesungguhnya merupakan anugrah nikmat yang sangat besar dari Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya :
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran : 103)
“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka” (QS. Al-Anfaal : 62-63)

Seiring perjalanan waktu, tali ukhuwah yang telah terjalin terkadang bisa mengendur, bahkan putus sama sekali dikarenakan virus-virus yang berjangkit di hati, antara lain :

1. TAMAK AKAN KENIKMATAN DUNIA
Banyak kasus dua orang sahabat yang saling mencintai dengan tulus sehingga masing-masing merasa berat untuk berpisah dari kawannya, tiba-tiba sikap mereka berubah ketika tergiur dengan gemerlap dunia dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Apa yang akan kita lakukan seandainya ada peluang rizki di mana kita dan saudara kita sama2 membutuhkan? Sering terjadi dua orang sahabat saling bersaing, saling jegal demi mendapatkan satu pekerjaan. Di sinilah sifat itsar (mendahulukan saudara) kita diuji.
Sebaik-sebaik sifat itsar adalah yang seperti dilakukan oleh kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin sebagaimana diabadikan dalam QS. Al Hasyr : 9 berikut ini.
“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”

2. TIDAK SANTUN DALAM BERBICARA
Hal ini merupakan pintu yang paling leluasa bagi setan untuk masuk menebar bibit2 perselisihan dan permusuhan di antara sahabat. Banyak yang beranggapan, hubungan istimewa yang terjalin dengan sahabatnya membebaskannya dari tutur kata yang sopan. Contoh gaya bicara kepada saudara kita yang harus dihindari adalah :
a. Berbicara dengan nada suara tinggi dan menggunakan kata2 kasar
Di dalam Al Qur’an, Allah mengisahkan wasiat Luqman dalam mendidik anaknya :
“Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (QS. Luqman : 19)
Ali bin Abu Thalib berkata : “barangsiapa lembut tutur atanya, niscaya manusia suka dengannya”.
b. Tidak mendengar saran saudaranya, enggan menatap ketika berbicara atau memberi salam, tidak menghargai keberadaannya
Seorang ulama salaf berkata : “Ada orang yang memberitahuku tentang suatu hadits, padahal saya telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun kesopanannya mendorongku
untuk tetap mendengarnya hingga selesai.”
Kemuliaan akhlaq Rasulullah membawa beliau untuk tetap mndengar dan tidak memotong kata2 seorang musyrik bernama ‘Utbah. Ketika berhenti, Rasulullah bertanya kepadanya : “Apakah engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan ‘Utbah)?”
c. Bercanda secara berlebihan
Canda ringan dalam batas kesopanan dan tidak keluar dari ruang lingkup yang benar akan menambah kelnturan dan kehangatan hubungan ukhuwah. Sebaliknya, canda yang berlebihan dan melampaui batas kesopanan akan mempercepat kehancuran ukhuwah.
d. Sering mendebat dan membantah
Sering mendebat dan membantah diikuti oleh dampak begatif lainnya seperti menganggap unggul ide sering mengkritik ide sahabat, sok tahu, menggunakan kata2 pedas yang bernada merendahkan pemahaman, cara berpikir, dan kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah. Sesungguhnya salah satu faktor paling signifikan yang dapat memicu rasa benci dan dengki antara sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-bantahan yang seringkali tanpa didasari oleh ketulusan dalam upaya mencari kebenaran. Perselisihan juga terkadang menjebak keduanya dalam pembicaraan mengenai masalah yang masih samar, tanpa dalih argumen yang jelas. Perselisihan juga mendorong salah seorang di antara kedua sahabat tersebut terus berbicara, kendati tiada hasil yang dicapai, selain memperburuk hubungan dan mengubah sikap. Sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan suka membantah” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad)
“Tiada kaum yang menjadi sesat setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka suka saling berbantah-bantahan” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)
“Aku adalah penghulu (kepala) rumah di taman surga – yang diperuntukkan – bagi orang2 yang menghindari perdebatan (perselisihan), sekalipun dalam posisi yang benar” (HR. Abu Dawud)
e. Kritikan keras yang melukai perasaan
Salah satu faktor yang dapat merusak suasana pembicaraan dan hubungan ukhuwah adalah menyerang dengan kritikan bernada keras atau kritikan yang tidak argumentatif. Seperti ungkapan : “Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak memiliki dalil yang menguatkan.” Atau : “Kamu berseberangan dengan saya.”
Jika antum seorang yang beretika baik, seharusnya yang antum katakan adalah : “Beberapa sisi dalam pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi”, “Menurut hemat saya….”, “Saya mempunyai ide lain, harap antum menyimaknya dan memberi penilaian”, dan ungkapan2 serupa.

3. SIKAP ACUH
Ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang kering. Ia akan segera gugur dan luntur.
Imam Ahmad dalam bukunya az-Zuhd dan Ibnu Abi Dunya dalam bukunya al-Ikhwan, menceritakan bahwa pada suatu malam Umar bin Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya, dan ia terus bergumam lirih : “Mengapa malam ini tersa terasa begitu panjang.” Maka setelah menunaikan shalat Subuh, Umar segera menemui sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat. Subhanallah…..Itulah perasaan yang membuat seseorang merindukan saudaranya, sehingga berangan-angan agar tidak berpisah darinya, baik di dunia maupun di akhirat.
Berempati atas semua musibah dan penderitaan yang dialami saudara atau sahabat serta memperhatikan keperluan-keperluannya merupakan salah satu hal yang bisa mempererat ukhuwah. Seorang ulama salaf berkata : “Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar2 tidak bisa tinggal diam (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhtar minash Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 143).
Perasaan yang tulus juga akan mendorong seseorang untuk mendoakan sahabatnya ketika berpisah dan menyebut namanya dalam waktu2 terkabulnya do’a.
Sabda Rasulullah : “Doa seorang muslim untuk kebaikan saudaranya yang dilakukan dari kejauhan, niscaya akan dikabulkan”. (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)

4.MENGADAKAN PEMBICARAAN RAHASIA
“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, agar orang2 yang beriman itu berduka cita” (QS. Al-Mujadilah : 10)

Dalam riwayat Ibnu ‘Umar ra dinyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda : jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara kamu membuat pembicaraan rahasia , kecuali jika orang ketiga mengizinkan, karena perbuatan itu dapat membuatnya sedih.

5. KERAS KEPALA, ENGGAN MENRIMA NASIHAT DAN SARAN
Sikap keras kepala dan enggan mnerima nasihat, membuat seorang sahat merasakan adanya dinding pemisah antara diri antum dan dirinya. Ia merasa sulit untuk terbuka dalam setiap pembicaraan dengan antum, bahkan -mungkin- menganggapmu sombong.
Rasulullah saw sering didatangi oleh para sahabat dan istri2 beliau untuk memberikan ide dan saran dalam berbagai hal. Beliau mau menerima dan menuruti saran mereka dengan senang hati, sekalipun dalam bentuk pernyataan keberatan, kritik, atau sekedar pertanyaan.

6. SERING MEMBANTAH, BERBEDA SIKAP DAN HOBI, BERSIKAP SOMBONG DAN KASAR
Untuk menambah kehangatan ukhuwah, dua orang yang bersahabat mesti memiliki beberapa kesamaan sifat, kebiasaan, dan watak. Pepatah mengatakan : “Burung2 bergerombol dengan sesama jenisnya.”
Malik bin Dinar berkata : “Dua insan tidak akan terikat dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing2 memiliki sifat yang sama dengan sahabatnya.”
Karena itu, betapa banyak orang yang berjumpa sekilas dalam perjalanan, kemudian berubah menjadi teman yang sangat dekat. Hal tersebut biasa terjadi karena antum menemukan beberapa kesamaan persaan, kesenangan, pemahaman, dan ide.
Di antara faktor yang dapat menambah keakraban ukhuwah sekaligus menjaganya dari kehancuran adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan sahabat. Sebaliknya, sering berseberangan dengan sahabat dapat mengurangi keakraban. Tetapi tentunya semua itu dilakukan dengan syarat tidak melanggar aturan syari’at agama.
Terhadap saudara atau sahabat, kita juga harus bersikap lembut dan tidak sombong. Anas bin Malik, pelayan Rasulullah saw pernah menceritakan tentang kelemah-lembutan Rasulullah. Kata beliau : “Aku menjadi pelayan Rasulullah saw selama 10 tahun, dan selama itu beliau tidak pernah mengeluh atau mengomentari pekerjaanku, seperti mengatakan, ‘Kenapa kamu lakukan ini?’, juga tidak pernah berkomentar ketika aku tidak melakukan sesuatu, seperti mengatakan ‘Kenapa kamu tidak melakukan ini?’.

7. MEMBERI TEGURAN DI DEPAN ORANG LAIN
Salah satu hak ukhuwah terhadap saudara kita adalah memberi nasihat apabila ia melakukan kemungkaran, maksiat atau kesalahan, dengan tujuan agar ia kembali kebenaran sekaligus terhindar dari ancaman kemurkaan dan siksa Allah SWT. Namun demikian, nasihat tidak boleh dilakukan secara terbuka di tengah keramaian umum, kecuali dengan alasan yang mendesak, karena merupakan sifat manusia, dia tidak suka jika keburukan-keburukannya dibuka di depan umum. Lebih dari itu, menasihati atau menyebut kesalahan seseorang di muka umum merupakan penyebab cepat pudarnya rasa cinta dan mudah menanam bibit2 permusuhan karena merasa dicemarkan dan dihina, juga dapat menimbulkan sifat keras kepala dan nafsu untuk membalas dendam.
Lain halnya bila seseorang dikritik atau dinasihati dalam keadaan menyendiri, ia akan lebih menerima, mampu memahami permasalahan dengan jelas, dan tertarik kepadamu karena merasa telah diberi pertolongan dan diingatkan akan kesalahan yang telah dilakukan.
Terkadang ada orang yang memberi nasihat ingin melihat hasil dari usahanya secepat kilat, sehingga berharap agar orang yang dinasihatinya berubah seketika. Jika tidak demikian, ia berasumsi bahwa nasihatnya telah gagal, atau terus berupaya menekan orang yang dinasihati, sehingga lebih mirip sebuah pemaksaan kehendak daripada menasihati. Ia juga beranggapan bahwa orang yang dinasihati itu tidak mengerti nasihat yang diberikannya, atau belum menerima nasihat itu. Pandangan seperti itu adalah tidak benar, karena sudah menjadi tabiat umum manusia, mereka enggan mengakui kesalahan secara langsung, melainkan membutuhkan rentang waktu untuk berpikir, atau mencari kesempatan untuk kembali.

8. SERING MENEGUR, TIDAK TOLERAN, CENDERUNG NEGATIVE THINGKING, ENGGAN MEMAAFKAN
Sikap sering menegur dan menekan sahabat dapat mengakibatkan terpuruknya tali ukhuwah, karena sahabatmu beranggapan bahwa Anda tidak dapat menerima kekurangannya sekecil apapun, atau menganggapmu selalu diliputi prasangka buruk terhadapnya. Jika Anda terus menggunakan cara bergaul seperti ini, tentu Anda tidak akan mendapatkan seorang sahabat yang bebas dari kekurangan. Artinya, Anda tidak akan pernah bisa menjalin ukhuwah.
Dalam memilih teman atau sahabat, kita perlu menentukan kriteria ideal, misal : akhlaqnya bagus, karena kita memang dianjurkan untuk bergaul dengan orang2 yang shalih. Akan tetapi perlu diingat juga bahwa tidak ada sahabat yang bebas dari kekurangan, sebagaimana Anda pun tidak lepas dari kekurangan. Maka terimalah kekurangannya sebagaimana ia menerima kekuranganmu.Fudhail bin ‘Iyadh berucap : “Siapa mencari sahabat tanpa cacat, niscaya sepanjanghidupnya tidak mendapat sahabat.”

Salah satu ciri ukhuwah yang tulus lainnya adalah suka memaafkan dan lapang dada terhadap kesalahan. Hasan bin Wahb berkata : Di antara hak2 ukhuwah adalah memaafkan kesalahan sahabat dan terbuka atas segala kekurangannya.”
Suatu kesalahan yang dilakukan oleh sahabat tidak boleh menjadi alasan untuk menjauhi atau putus darinya. Rasulullah saw bersabda :
“penyambung persaudaraan bukanlah orang yang membalas kebiakan yang pernah diterimanya, namun penyambung persaudaraan adalah yang diputus hubungannya, lalu dia menyambungnya kembali.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi)
Dalam untaian bait puisinya, Imam Syafi’i berkata :

Ketika aku memaafkan dan tidak menyimpan iri di hati
Jiwaku tenteram bebas dari tekanan rasa permusuhan

Kuucapkan salam di saat berjumpa lawan
Agar manahan bibit permusuhan
Dengan ucapan salam

Kutampakkan wajah berseri kepada orang yang kubenci
Seakan berbunga hatiku penuh kecintaan

Manusia adalah penyakit
Penawarnya dengan cara mendekati
Jika menjauhi berarti mengabaikan cinta sejati

Jika sahabatmu menyakiti atau berbuat kesalahan kepadamu, maka sikapilah dengan lapang dada dan maafkanlah jika sanggup memafkannya dengan penuh ketulusan. Namun jika tidak, tegurlah dengan baik, seperti yang dianjurkan oleh Abu Darda’ ra : “menegur saudaramu atasa kesalahannya adalah lebih baik, daripada harus berpisah. Adakah yang sanggup menunjukkan kepadamu seorang sahabat yang sempurna?”

9. MUDAH PERCAYA HASUTAN ORANG-ORANG YANG MENGADU DOMBA DAN MEMENDAM DENGKI
Merupakan kesalahan besar jika Anda mudah mempercayai isu yang berkembang mengenai sahabatmu, atau menuduhnya telah melakukan perbuatan yang menyakitkan, hanya berdasarkan kepada kabar burung dan isu yang diterima. Waspadalah, karena banyak orang yang dengki kepada orang2 yang terikat dalam jalinan ukhuwah. Para pendengki tersebut mempunyai kecemburuan yang sangat tinggi. Mereka tidak suka melihat hubungan tulus yang begitu kuat mengikat hubungan orang2 yang bersahabat, mereka tidak tenang selama tali ukhuwah tersebut belum tercerai-berai.
Oleh karena itulah, orang2 yang dipertemukan oleh Allah SW dalam sebuah jalinan ukhuwah harus yakin bahwa satu sama lainnya saling mencintai karena Allah, saling mencintai dengan penuh ketulusan yang muncul dari nurani yang paling dalam. Dengan demikian, sekuat apapun para pendengki memusuhi, tetap tidak akan mampu menggoyahkan kokohnya konstruksi ukhuwah.
Firman Allah SWT : (QS.Al Anfal : 63)

10. MEMBUKA RAHASIA
Salah satu faktor yang dapat mempertahakankan ukhuwah adalah menjaga rahasia sahabat agar tidak tersebar. Rasulullah saw bersabda : “Jika seseorang diberitahu oleh sahabatnya mengenai suatu hal, lalu ia pergi, maka hal tersebut telah menjadi amanat (rahasia yang harus dijaga) baginya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)
Sebagian ulama membuat ilustrasi mengenai sahabat yang membawa malapetaka jika dekat dengannya, yaitu orang yang jika dekat, ia berusaha mengetahui rajhasia, mengumpulkan data2 yang berhubungan dengan kita, memperhatikan kesalahan dan kekurangan, menghitung kesalahan2 kecil yang tidak disengaja, menghafal saat2 kita tergelincir ucapan atau perbuatan spontan dalam keadaan biasa maupun sedang marah, atau di dalam pembicaraan terbuka dan lepas yang siapapun sulit terhindar dari kelalaian, kemudian ia menjadikan semua itu sebagai senjata untuk menjatuhkan sahabtanya di kala terjadi perselisihan”. Semoga kita semua terhindar menjadi sosok sahabat yang seperti ini. Naudzubillah mindzalik.

11. MENGIKUTI PRASANGKA
Mempunyai prasangka bahwa sahabatmu menyembunyikan sesuatu darimu juga dapat menyakitinya. Apalagi jika Anda sudah membangun sikap2 tertentu berdasarkan prasangka tersebut. Selain bisa menyakitinya, hal ini juga betul2 akan menyakiti dirimu sendiri, karena prasangka buruk dapat merusak ketulusan perasaan hatimu terhadapnya.
Oleh karena itu, ketulusan hati da prasangka baik (husnuzhzhan) merupakan salh satu faktor yang dapat mempertahankan hubungan ukhuwah. Dengan alasan tersebut Allah dan Rasul-Nya melarang kita berburuk sangka (su’udzdzan) dan mengikutinya.

“Hai orang2 yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujuraat : 12)

Sabda Rasulullah : “Hindarilah prasangka (buruk), karena prasangka (buruk) adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)

Prasangka buruk dapat mendorong kepada perbuatan tajassus (mencari-cari kesalahan) yang dilarang oleh agama. Juga dapat mendorong untuk menjelk-jelekkan sahabat. Betapa jauh dari cinta dan makna ukhuwah, orang yang jika marah terhadap sahabatnya, ia langsung berprasangka buruk atau mengejeknya di hadapan orang lain.

12. MENCAMPURI MASALAH PRIBADI
Termasuk dalam hal mencampuri urusan pribadi adalah mencari-cari kesalahan, mencuri pendengaran, serta turut campur dalam masalah yang tidak ada gunanya bagi kita.

Sabda Rasulullah : “Jangan mencari-cari kesalahan (tajassus), mencuri pendengaran (tahassus), saling bermusuhan dan saling menjauhi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad)

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Dalam shiroh sahabat Nabi dikisahkan, ada seorang sahabat Nabi yang sakit. Ketika para sahabat dan kerabat menjenguknya, mereka merasa heran ketika melihat wajah sahabat yang sakit tersebut begitu ceria. Lalu mereka bertanya mengenai sebab keceriaannya. Ia menjawab : “Ada dua amalan yang benar2 kuyakini pahalanya sangat besar, yaitu aku tidak pernah berbicara mengenai hal2 yang tidak berguna, dan hatiku bersih dai segala perasaan kotor terhadap sesama kaum muslim.”

13. EGOIS, AROGAN, TIDAK BEREMPATI DENGAN PENDERITAAN SAUDARA, DAN TIDAK MEMPERHATIKAN MASALAH SERTA KEBUTUHANNYA
Suatu pelajaran yang indah dapat kita petik dari cerita Harun bin Abdillah ra ketika ia berkata : “Pada suatu saat, Ahmad bin Hambal mengunjungiku di tengah malam. Kudengar pintu diketuk, maka aku bertanya : “Siapa di luar sana?” Ia menjawab : “Aku, Ahmad”. Segera kubuka pintu dan menyambutnya. Aku mengucapkan salam dan ia pun demikian. Lalu aku bertanya : “Keperluan apakah yang membawamu kemari?” Ahmad menjawab : “Siang tadi, sikapmu mengusik hatiku.” Aku bertanya : “Masalah apakah yang membutmu terusik, wahai Abu Abdillah?” Ahmad menjawab : “Siang tadi akui lewat di samping halaqoh-mu, ketika engkau sedang mengajar murid2mu, engkau duduk di bawah bayang2 pohon sedangkan murid2mu secara langsung terkena terik matahari dengan tangan memegang pena dan catatan. Jangan kau ulangi perbuatan itu di kemudian hari. Jika engkau mengajar maka duduklah dalam kondisi yang sama dengan murid2mu.”
Dalam kisah di atas, setidaknya ada dua catatan yang layak direnungkan.
(1) yang bercerita buka pihak yang memberi nasihat, melainkan orang yang dinasihati dan ia tergugah dengan nasihat tersebut,
(2)kelembutan dan kehalusan gaya nasihat Imam Ahmad. Ia menyampaikannya secara sembunyi di tengah malam, dengan menggunakan kata2 “Sikapmu mengusik hatiku”, benar2 suatu ungkapan yang lembut. Ia tidak mengatakan, misalnya “Kamu telah menyakiti manusia….”

Faktor lain yang dapat memperkokoh ukhuwah adalah berempati terhadap penderitaan saudara dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya.
Sabda Rasulullah : “Siapa yang mencukupi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah mencukupi kebutuhannya Siapa yang menolong seorang mukmin dari suatu kesusahan, niscaya Allah akan menolongnya dari salah satu kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad)
Dalam hal mencukupi kebutuhan saudara kita, skala paling rendah adalah sebatas mencukupi kebutuhannya ketika diminta dan kita mampu, dan bantuan tersebut diberikan dengan syarat hati merasa senang dan bahagia. Skala pertengahan adalah mencukupi kebutuhannya tanpa ia minta, dan askala yang tertinggi adalah mengutamakan kebutuhan saudara kita daripada kebutuhan kita sendiri.

sahabat di saat senang selalu banyak jumlahnya
namun ketika susah hanya sedikit yang tersisa

maka jangan terpedaya dengan kebaikan seorang sahabat
namun ketika musibah menimpa tiada yang mengiba

semua sahabat menyatakan dirinya setia
namun tidak semua berbuat seperti ucapannya

kecuali sahabat yang penuh derma dan taat agama
itulah sahabat yang berbuat sama dengan kata-katanya

14. MENUTUP DIRI, BERLEBIHAN, MEMBEBANI, DAN MENGHITUNG-HITUNG KEBAIKAN
Jika Anda ingin membuat hati seorang sahabat menjadi senang dan bersikap terbuka apa adanya, maka hindarilah menutup diri dan jangan membuatnya merasa terbebani, jangan menghitung-hitung kebaikannya kepadamu, jangan memberatkannya agar melayanimu, dan bersikaplah rendah hati. Dalam hal ini, cara pandang yang paling baik adalah kamu menganggap dirimu lebih layak melayani daripada dilayani, dengan demikian kamu cenderung menganggap dirimu sebagai pelayan. Barangkali Umar bin Khaththab adalah sosok yang bisa dijadikan contoh. Beliau berbuat baik kepada siapa saja, tidak hanya sahabat dekat, melainkan juga budak-budaknya. Menurut Aslam, salah seorang pelayan Umar, pada suatu malam terkejut mendapati Umar sedang mengurus kuda2 pelayannya dan kudanya sendiri, seraya melantunkan puisi :

Jangan biarkan malam ini membuat hatimu resah
Hiasilah ia dengan sehelai baju dan sorban
Jadilah sahabat baik bagi Naif dan Aslam
Layanilah mereka

15. ENGGAN MENGUNGKAPKAN PERASAAN CINTA, ENGGAN MEMBELA SAHABAT KETIKA AIBNYA DISEBUT
Tentang menyatakan cinta pada saudara, Rasulullah bersabda: “Jika seorang di antara kamu mencintai saudarnya karena Allah, maka kabarkanlah kepadanya, karena hal itu dapat mengekalkan keakraban dan memnatapkan cinta.”

Di antara hak ukhuwah adalah membela dan mempertahankan nama baik sahabat. Rasulullah bersabda : “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhalimi dan menyerahkannya.” (HR. Bukhari, Ahmad)

16. MELUPAKANNYA KARENA SIBUK MENGURUSI ORANG LAIN DAN KURANG SETIA
Di antara gambaran akhlaq buruk dalam berukhuwah adalah ketika kita mendapatkan seorang sahabat baru lantas meninggalkan sahabat yang telah kita kenal dalam jangka waktu lama. Salah satu penyebab kekecewaan sahabat adalah ketika ia berusaha sekuat tenaga untuk dekat denganmu dan selalu mengutamakanmu dari siapapun juga, ia justru mendapatimu tidak setia dan menghargainya.
Tidak setia terhadap sahabat juga dapat memutuskan tali ukhuwah. Tanda-tanda kesetiaan terhadap sahabat di antaranya adalah :
- berdoa untuknya dari kejauhan, baik selama ia hidup atau setelah kematiannya, berbuat baik kepada orang yang dicintainya juga keluarganya.
- konsiten dengan sikap tawadhu’ (rendah hati) terhadap sahabat, sekalipun kedudukan ataupun ilmu Anda lebih tinggi darinya.

17. MENGINGKARI JANJI DAN KESEPAKATAN TANPA ALASAN YANG JELAS
Sifat buruk ini akan menumbuhkan anggapan dalam diri sahabat Anda bahwa Anda tidak memperhatikannya, karena orang yang mengingkari janji atau kesepakatan berarti telah meninggalkan sesuatu yang dianggap kurang penting demi meraih sesuatu yang dianggap lebih pening. Alasan ini sudah cukup kuat untuk membuat sahabatmu sedih, menodai cinta dan merusak ukhuwah.

18. SELALU MENCERITAKAN PERKARA YANG MENYEDIHKAN DAN SUKA MENYAMPAIKAN BERITA YANG MEMBUAT RESAH
Ibnu Hazm ra bekata : “Jangan sampaikan beritayang membuat saudaramu sedih atau tidak bermanfaat baginya, karena itu adalah perbuatan orang2 kerdil. Dan jangan menyembunyikan berita yang bisa membahayakannya jika ia tidak tahu, karena itu merupakan pekerjaan orang2 jahat.”
Yahya bin Mu’adz berkata : “Jadikanlah tiga hal berikut ini sebagai sikapmu terhadap orang2 mukmin;jika tidak bisa memberi manfaat, maka jangan membahayakannya; jika tidak bisa membahagiakannya, maka jangan membuatnya sedih; Jika tidak memujinya, maka jangan mencacinya.”

19. TERLALU CINTA
Maksudnya adalah menghindari hal-hal yang berlebihan, seprti ketergantungan atau rasa suka terhadap sahabat, membebani diri dengan beban yang terlalu berat dalam upaya melayani atau mendekatinya.

Rasulullah saw bersabda : “Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.” (HR. Bukhari, Tirmidzi)

Abul-Aswad berkata :

Cintailah kekasihmu
Dengan cinta yang sederhana
Karena kamu tidak tahu
Kapan ia menjauhimu
Jika harus benci, maka bencilah
Tapi jangan menjauhi
Karena kamu tidak tahu
Kapan harus kembali

Mencintai sahabat secara berlebihan malah akan melemahkan persahabatan. Lebih baik cinta yang terus merangkak namun menanjak daripada cinta yang melonjak namun lekas surut.
Namun demikian, jadikanlah cintamu kepada sahabat lebih besar dari cintanya kepadamu, agar mendapat fadhilah (keutamaan) dari Allah melalui sabda Rasul-Nya :
“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah, kecuali orang yang lebih besar cintanya adalah yang lebih utama di antara keduanya.” (HR. Bukhari)

Jadikan tulisan dalam buku ini sebagai bahan instrospeksi, menilai diri sendiri untuk memperbaiki kadar ukhuwah dan menunaikan hak ukhuwah saudaraku. Jangan jadikan tulisan dalam buku ini sebagai bahan untuk menilai sahabat2 Anda, karena jika itu dilakukan, Anda pasti akan lebih memilih untuk ‘uzlah atau menyendiri.
Wallahu’alam.

( dari buku Virus-Virus Ukhuwah, karangan Abu ‘Ashim Hisyam bin Abdul Qadir ‘Uqdah, terbitan Robbani Press)

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM
Buat Yang Udah Nikah, Mau Nikah, Punya Niat Untuk Nikah

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah
tangga, kalau ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah
bertengkar dengan isteri saya !" Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta.

Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih
menikmati lagi saat saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah
keadaan diskusi, hanya sajadihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.

Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah,betapa
tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang
terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat
dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental,
lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Tulisan ini murni non politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa membacanya.

Bacalah dengan sabar, lalu renungi dengan baik, setelah
itu...terapkan dalam keseharian kita.......setuju ??

okeh....?

.....Suatu ketika seseorang berbincang dengan orang yang akan menjadi
teman hidupnya, dan salah satunya bertanya; apakah ia bersedia
berbagi masa depan dengannya,dan jawabannya tepat seperti yang
diharap.Mereka mulai membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga
ke depan.Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus
dilakukan kala mereka bertengkar. Dari beberapa perbincangan hingga
waktu yang mematangkannya, tibalah mereka pada sebuah Memorandum of
Understanding,bahwa kalaupun harus bertengkar, maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah
Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim
sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah
pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia
marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya ! Saya
harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati :
"kamu makin cantik kalau marah,makin
energik ..."

Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah
menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang
dikasihi... "duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu
menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...."
Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka", saya
menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah,
ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah
sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :)

Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.
pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada
sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama'ah selain
marah :)

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa
(maksudnya masa lalu kita)

Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab
masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.

Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan
terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita
perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara
orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang
pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah
sedemikian mahal dibangunnya.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan itu
sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". Tapi bila itu
dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu,awal bulan kemarin dan
dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.

Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula),
sepedas apapun saya marah,maka itu adalah "harapan ingin disayangi
lebih tinggi". Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin
dan tiga hari lewat,plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka
saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa
lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.

Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah ... OK, marahlah
tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik
hari ini .....

3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan
ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga
ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung
kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).

Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi
kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia,
semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini
selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke
kancah "awal cinta yang panas ini".

Kata ayah saya : "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu
banyak".

Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma'afnya dari
pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..". Dunia
sudah diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4.Kalau marah jangan di depan anak-anak

Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan
kebencian.

Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka
harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua
nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana
ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
* Ibu : "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak,
dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!"
* Bapak : "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus
mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini
kuda ????!!!!
* Anak : "...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus
saya ini apa ?"

Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran !" ketika anak
datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan.
Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata
bahasa hati kita ???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat

Pada setiap tahiyyat dalam shalat kita berkata : "Assalaa-
mu 'alaynaa wa 'alaa'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian
juga atas hamba hambamu yg sholeh ....
Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap
isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal
nyawamu ditangan Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti
lho itu janji dengan Ilahi .... Marahlah habis shubuh, tapi jangan
lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya
sebatas....??? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya
memang tidak bertengkar ... :)

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan

Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah
"proses belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih
setia dengan kita walau telah kita maki-maki.



Ini saja, semoga bermanfa'at,"Dengan ucapan syahadat itu berarti
kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi".


Suatu hari aisyah kecil bertanya pada ayahnya.
Abi ceritakan padaku tentang Akhwat sejati?”
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum:
Anakku …
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang memesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan, tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.

“Lantas apa lagi Abi?”, sahut putrinya.

Ketahuilah putriku …
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian, tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah …

Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

Setelah itu sang anak kembali bertanya, “Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?”

Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata,”Pelajarilah mereka!”

Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rosulullah”

***

Akhwat sejati tidak dilihat dari jilbabnya yang anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap.

Akhwat sejati tidak dilihat dari retorikanya ketika aksi, tetapi dilihat dari kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan.

Akhwat sejati tidak dilihat dari banyaknya ia berorganisasi,tetapi sebesar apa tanggungjawabnya dalam menjalankan amanah.

Akhwat sejati tidak dilihat dari kehadirannya dalam syuro’, tetapi dilihat dari kontribusinya dalam mencari solusi dari suatu permasalahan.

Akhwat sejati tidak dilihat dari tasnya yang selalu membawa Al - Qur’an,tetapi dilihat dari hafalan dan pemahamannya akan kandungan Al - Qur’an tersebut.

Akhwat sejati tidak dilihat dari aktivitasnya yang seabrek,tetapi bagaimana ia mampu mengoptimalisasi waktu dengan baik.

Akhwat sejati tidak dilihat dari IP-nya yang cumlaude, tetapi bagaimana ia mengajarkan ilmunya pada umat.

Akhwat sejati tidak dilihat dari tundukan matanya ketika interaksi, tetapi bagaimana ia mampu membentengi hati.

Akhwat sejati tidak dilihat dari partisipasinya dalam menjalankan kegiatan, tetapi dilihat dari keikhlasannya dalam bekerja.

Akhwat sejati tidak dilihat dari sholatnya yang lama, tetapi dilihat dari kedekatannya pada Robb di luar aktivitas sholatnya.

Akhwat sejati tidak dilihat kasih sayangnya pada orang tua dan teman - teman, tetapi dilihat dari besarnya kekuatan cinta pada Ar - Rahman Ar - Rahiim.

Akhwat sejati tidak dilihat dari rutinitas dhuha dan tahajjudnya, tetapi sebanyak apa tetesan air mata penyesalan yang jatuh ketika sujud.
kamu??

Wahai kaum perempuan,

Jagalah diri kalian dari kemewahan hidup,
Karena kemewahan adalah musuh berbisa Jihad
Kemewahan akan memalingkan
dan membelokkan jiwa kemanusiaan

Hati-hatilah terhadap kenikmatan hidup
Cukuplah dengan makan yang perlu-perlu saja

Didiklah anak-anak kalian
dengan kehidupan yang berat dan keras,
dengan sifat kejantanan dan kepahlawanan
serta berkemauan untuk Jihad

Jadikanlah rumah kalian sebagai kandang singa,
bukannya kandang ayam,
yang setelah gemuk dijadikan sembelihan
oleh penguasa durhaka.

Tanamkanlah dalam jiwa putra-putra kalian
hobby dan kecintaan berjihad
Mencintai pacuan kuda
dan bertamasya ke medan pertempuran.

Hiduplah dengan selalu menghayati kesulitan kaum muslimin.
Usahakan minimal sekali dalam satu pekan
Untuk hidup seperti hidupnya kaum Muhajirin dan Mujahidin
Hanya dengan sepotong roti kering dan tidak lebih
Beberapa teguk air teh sebagai pembasah tenggorokan.

[Syaikh Dr. Abdullah Azzam]
7 KESALAHAN PENGANTIN BARU

Anda pikir Anda tahu semuanya? Jangan buru-buru merasa yakin. Jangan
biarkan kesalahan-kesalahan yang umum terjadi dalam rumah tangga merusak
impian berumah tangga yang indah.

Kesalahan 1
Jangan pernah berutang.
Memang kedengarannya kurang "romantis", membahas masalah uang sebelum
perkawinan terjadi. Namun kenyataannya, pada tahun-tahun pertama
perkawinan akan banyak keperluan yang Anda butuhkan. Salah satu contoh,
membeli rumah. Uang adalah masalah penting dalam rumah tangga. Jadi,
bicarakanlah masalah yang peka ini sedini mungkin.

Tiga alasan mengapa hal ini perlu:
1. Masalah keuangan yang tidak terselesaikan dapat menimbulkan duri
dalam rumah tangga.
2. Utang yang menumpuk.
3. Anda tidak tahu bagaimana cara mengatasi masalah utang-piutang Anda.

Yang harus dilakukan:
* Selesaikan masalah utang pesta perkawinan Anda secepatnya.
* Demi kebaikan berdua, perlu adanya keterbukaan mengenai masing-masing
utang yang dimiliki.
* Buat rencana keuangan yang matang untuk masa depan Anda berdua.
Kesalahan 2
Anda melupakan teman-teman.
Tiga alasan mengapa Anda tidak mempedulikan mereka:
1. Anda memiliki pasangan ­ seseorang yang selalu ada pada saat Anda
memerlukan seseorang.
2. Tidak seorang pun di antara teman-teman Anda yang mengerti masalah
perkawinan.
3. Mengisi waktu dengan pasangan lebih mudah dibanding dengan
teman-teman.

Yang harus dilakukan:
* Jelaskan pada teman-teman Anda sedini mungkin bahwa mereka adalah
bagian dari kehidupan Anda. Undang teman ke rumah atau jalan-jalan
dengan mereka (tidak selalu harus dengan pasangan Anda), sempatkan waktu
untuk bersosialisasi walaupun jadwal Anda padat.

Kesalahan 3
Jarang melakukan hubungan intim.
Seks merupakan salah satu dasar untuk terciptanya perkawinan yang
bahagia.

Tiga alasan mengapa Anda tidak melakukannya:
1. Terlalu sibuk.
2. Anda merasa tidak percaya diri
3. Anda merasa tidak perlu.

Yang harus dilakukan:
* Lakukan hubungan intim, walau Anda sedang tidak ingin. Jadwalkan kapan
Anda berdua akan berintim-intim.
* Berbicaralah mengenai masalah seks yang Anda rasakan. Atasi masalahnya
sekarang juga dan bicarakan dalam suasana yang nyaman.
* Ciptakan suasana romantis. Coba untuk lebih seksi dan menggoda (kirim
e-mail di siang hari dengan kata-kata yang romantis)

Kesalahan 4
Tidak merawat diri.
Karena merasa sudah mendapatkan si dia, Anda merasa tidak perlu menjaga
penampilan.
Tiga alasan mengapa hal ini terjadi:
1. Anda tidak termotivasi.
2. Anda sibuk dengan segala urusan rumah tangga seperti memasak dan
beres-beres rumah.
3. Saking sibuknya, Anda tidak sempat memperhatikan apa yang Anda makan
atau Anda merasa tidak perlu berolahraga.

Yang harus dilakukan:
* Buat jadwal untuk berolahraga. Kalau bisa, bersama-sama. Dan tahukah
Anda, kegiatan apa yang membakar kalori terbanyak? Seks!
* Mungkin Anda perlu membeli baju yang agak seksi sehingga memotivasi
Anda untuk menjaga penampilan.
* Saling mendukung dan memotivasi. Puji pasangan bila mereka sudah
berusaha. Jangan mengritik.

Kesalahan 5
Tidak peduli pada mertua.
Hasil penelitian membuktikan, banyak pasangan mempunyai masalah dengan
mertuanya. Percayalah, hal ini akan bertambah parah dengan kehadiran
bayi atau masalah-masalah lain yang dapat timbul dalam rumah tangga.

Tiga alasan mengapa hubungan tersebut harus diperbaiki:
1. Ini merupakan masa transisi bagi orang tua untuk melepas anak mereka
hidup berumah tangga.
2. Hal ini juga merupakan masa transisi bagi Anda. Mungkin orang tua
Anda sedih, jadi sebaiknya jangan perburuk keadaan.
3. Memang tidak mudah tapi Anda harus menyadari, Anda tidak hanya hidup
berdua dengan pasangan. Anda harus bisa bertoleransi.

Yang harus dilakukan:
* Buat batasan yang jelas misalnya jadwalkan hari libur) untuk
menghindari kemungkinan buruk (misalnya, mengapa Anda tidak bisa hadir
pada acara HUT mertua)
* Hindari membicarakan kejelekan masing-masing keluarga. Walaupun
pasangan Anda mengeluh mengenai keluarganya, tidak perlu memberi
komentar yang tidak baik.
Jadilah pendengar yang baik.
* Dukung perasaan pasangan Anda.

Kesalahan 6
Bertengkar dengan cara yang tidak adil.
Perselisihan susah dihindari. Selesaikan dengan cara yang baik dan
usahakan sebelum tidur masalah sudah bisa diatasi.
Tiga alasan mengapa hal ini bisa terjadi:
1. Pasangan mempercayakan kartu kreditnya pada Anda dan pada waktu
bertengkar, Anda belanja sesukanya dengan menggunakan kartu kredit
tersebut.
2. Anda gampang meledak dan karena tahu bagaimana cara menenangkan
pasangan, Anda memakai cara ini.
3. Anda tidak terlalu khawatir membuat dia marah karena berpikir, toh,
masih ada hari esok untuk memperbaiki.

Yang harus dilakukan:
* Diskusi. Tapi dengan menyadari dan memilah masalah mana yang harus
dibahas dan yang mana yang tidak perlu, tanpa rasa dendam.
* Bila Anda betul-betul sedang naik pitam, sebaiknya pergi walaupun
hanya untuk sebentar. Perlu untuk menenangkan diri Anda. Bila sedang
marah, biasanya kita mengucapkan kata-kata yang kita sesali sesudah
mengucapkannya.
* Harus berusaha memperbaiki. Minta maaf dan nikmati hubungan intim
berduaan.

Kesalahan 7
Merasa terobsesi dengan langkah berikutnya: bayi. Pengantin baru merasa
keberadaan sang bayi akan membuat gerakan mereka terbatas sehingga tidak
dapat menikmati hidup.

Tiga alasan mengapa hal ini terjadi:
1. Orang-orang di sekeliling Anda (teman-teman, tetangga, sepupu) sudah
hamil.
2. Membayangkan bayi menangis tengah malam karena haus atau karena
mengompol.
3. Anda sudah mengencangkan ikat pinggang, membeli rumah. Berarti
sekarang Anda harus menyusun kembali anggaran belanja Anda.

Yang harus dilakukan:
* Pusatkan perhatian pada hubungan Anda berdua. Nikmati keberduaan itu.
Nikmati saat-saat dimana Anda belum perlu bangun jam 04.00 untuk
mengganti popok atau menyusui.
* Bangun fondasi. Pikirkan kapan waktu yang tepat dan segera buat
rencana. Bila waktunya sudah terbayang di dalam pikiran Anda, walaupun
masih lama, mungkin Anda tidak akan terlalu terobsesi.
Ketika kita sudah berikrar menjadi sepasang suami istri berarti kita pun siap hidup bersama dalam suka dan duka, mendampingi suami hingga akhir hayat. Komitmen seperti itu bukanlah hal sulit bagi sebagian perempuan, apa sih susahnya hidup bersama dengan orang yang dicintai. Tapi jangan salah ada sebagian perempuan yang menghadapi dilema untuk mewujudkan komitmennya yang satu ini.

Terutama bagi para perempuan yang punya karier di luar rumah, ketika suatu saat suaminya pindah tugas ke luar kota atau harus melanjutkan study ke luar negeri. Mereka dihadapkan pada pilihan berat ikut suami atau tetap tinggal dengan pekerjaannya. Melepas suami seorang diri jauh-jauh dari keluarga bukanlah kondisi yang menenangkan, dan sebaliknya melepas pekerjaan begitu saja, padahal sudah diraih dengan susah payah adalah hal yang sangat berat.

Begitulah hidup penuh dengan pilihan. Setiap pilihan yang kita ambil menghadirkan konsekwensi yang harus kita hadapi. Hanya orang-orang bijak yang menentukan pilihan yang arif dan maslahat bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk orang disekitarnya. Dan saya bertemu dengan orang-orang bijak ini ketika merantau bersama suami ke negeri jiran. Saya banyak bertemu dengan para istri yang setia mendampingi suaminya belajar. Tidak sedikit diantara para istri ini yang rela meninggalkan pekerjaannya di tanah air.

Yang membuat saya kagum pekerjaanya bukanlah pekerjaan yang mudah diraih. Ada yang bekerja sebagai dokter umum di RS swasta yang cukup terkenal di Jakarta, ada juga yang bekerja sebagai sekretaris perusahaan besar, ada juga yang berprofesi sebagai dosen bahkan ada manager di perusahaan besar. Subhanallah, sungguh pengorbanan yang luar biasa dalam pandangan saya.

Saya yakin para istri ini memilih meninggalkan pekerjaan bukanlah hal yang mudah, apalagi disini mereka harus kehilangan penghasilan dan rutinitas yang sudah bertahun-tahun dijalani. Tapi mereka sudah menentukan pilihan yang suatu hari nanti akan menghasilkan buah yang tidak ternilai. Mungkin sekarang para istri ini kehilangan penghasilan dan status sebagai wanita karier, tapi kebersamaan dengan keluarga, suami dan anak-anak tidak bisa diukur oleh materi. Mereka sedang memberikan pupuk kehidupan yang sehat untuk buah hatinya, sebagai bekal untuk mengarungi samudra kehidupan.

Pengorbanan para istri ini tidak berhenti sampai disitu, di medan perjuangan ini mereka dihadapkan pada kondisi yang sulit. Biaya hidup sangat tinggi sedangkan beasiswa yang diterima sangat kecil. Bahkan ada yang mengalami beasiswanya habis, Inalillahi. Dalam kondisi seperti inilah para istri tangguh ini tampil. Ada yang mengambil pekerjaan sebagai pengasuh anak, membantu pekerjaan rumah (alias pembantu sambilan), membuat kue untuk dijual di kantin-kantin, berjualan pakaian, penjaga kedai (walaupun harus siap ditangkap).

Pekerjaan kecil inilah yang menopang ekonomi keluarga hingga anak-anak bisa terus sekolah, dapur tetap ngebul dan suami bisa menyelesaikan studinya. Sungguh pengorbanan yang luar biasa bukan, sehingga layak menyandang gelar “Bukan sembarang istri ”. Tidak semua perempuan mampu mengambil langkah seperti mereka, banyak para istri yang lebih memilih karier sendiri dibanding harus mendampingi suaminya.

Sungguh beruntung suaminya bisa bersanding dengan istri seperti ini. Mau berkorban apa saja untuk kesuksesan suaminya, semoga suami senantiasa mengingat pengorbanan istrinya. Bahwa dalam kesuksesan yang diraihnya ada tetes peluh dan senandung do’a istrinya. Dan hanya Allah saja yang bisa membalas kebaikan para istri ini, Semoga Allah memudahkan urusan kita di dunia dan di akherat, Amin

Bukan Sembarang Istri

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah
istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah
wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian
ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap,
Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari,
barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lag.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa
merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali
belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar
lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan
tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru
berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda
pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia? Masihkah Anda
memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada
anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang
sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun
dalam bicara, tulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani
tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya
bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang
perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu
saja saya tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak
anak-anak dengan mata rnembelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda
melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah
menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula
manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk
tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat
itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita rnenjerit
karena cubitannva yanq bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh
bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi
istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga
butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara
gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau
mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya
berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui
keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu
sendiri jika ia tiba-tiba meledak. Jangankan istri kita yang suaminya
tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi
yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena
Nabi Saw. tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api
kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi 'Aisyah yang
sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang
dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita
menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan
hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan
yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam
menghadapi anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita
tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat
untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang
harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap
memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun
ia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi
mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah
kita kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu telah
melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu.
lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar
Untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata
yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa
banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah
bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat
yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman
hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?"

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin
sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin
juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita
terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau menyuapi si
mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly;
tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas
karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan. Kita tidak akan
mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah.
Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas,
ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan
yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita
untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang menetes dari
kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga
baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas
bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang
kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita
sebagaimana Bunda 'Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya,
Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku."

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah
engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia
sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin
bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak
lekang oleh perubahan, Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia,
sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat
kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. "Wahai
manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana
kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,"kata Rasulullah Saw.
melanjutkan, 'kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan
kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada
Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk
selalu berbuat baik. "
Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita
harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah
dari-Nya, apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat an dengan cepat
rnenggerogoti wajahnya, jauh lebih awal dari usia yang sebenarnya?
Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri ? Saya
tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami Saya sudah cukup
baik. Jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri.
Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya
sebagai suami. Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.

Hanya inilah ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya.
Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.

Komentar-komentar :

putri - jlt
sangat menyentuh sekali tulisannya...jd terharu hiks. memang benar bahwa seorang istri juga butuh perhatian dan pengakuan dari suaminya, kadang seorang suami kurang memahami mengenai keadaan istrinya dikala ia lelah. apalagi bila ditambah sang istri selain sebagai ibu rumah tangga juga sebagai wanita karir...bisa dibayangkan betapa capeknya ia dikala setelah bekerja seharian pulang kerumah juga kembali melakukan tugas2nya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak2nya.

Serli - Sby
FauzhiL Adhim selalu menyentuh perasaan

damarjatisupardal - Jogja
Dengan apa lagi kita musti memberi apresiasi yang tulus dan ikhlas kepada istri, tatkala istri telah begitu sempurna dan ikhlas berperan sebagai ibu dalam keluarga, namun juga masih berperan sebagai "pencari nasfkah" untuk keluarga. Istri yang juga bekerja di sektor publik. Betapa luar biasanya istri yang demikian.

COPY PASTE DI TARUH DI EMAIL SUMBERNYA NGAK KENA PASTE

. Berhiaslah untuk isteri anda sebagaimana anda senang apabila ia berhias untuk anda.
2. Merayu isteri dan mencandainya.
3. Mempergaulinya dengan lemah lembut dan kasih sayang.
4. Penuhi kesenangannya untuk berbicara dan bercakap-cakap (bercengkerama).
5. Panggillah isteri dan nama kesukaannya.
6. Jauhilah sikap emosional dan tempramental.
7. Berilah isteri anda rasa aman dan tenang.
8. Membuatnya gembira dengan pemberian yang mengejutkan.
9. Masuklah ke dalam rumah dengan wajah berseri-seri dan tersenyum.
10. Berlemahlembutlah dalam berbicara.
11. Bicarakanlah sesuatu yang menyenangkannya.
12. Memujinya di hadapan keluarga anda dan keluarganya.
13. Menghargai penampilannya.
14. Berikanlah hadiah (romantis) semisal bunga atau selainnya sebagai penguat cinta diantara keduanya.
15. Hilangkanlah kejenuhan rutinitas sehari-hari dengan bertamasya (rihlah) atau selainnya.
16. Terimalah kekurangan-kekurangannya karena tidak ada manusia yang sempurna.
17. Jagalah diri dari perkara-perkara sepele yang dapat bertumpuk menjadi masalah besar.
18. Bantulah isteri anda dalam urusan-urusan rumah tangga.
19. Jangan kikir dengan perasaan anda. Ekspresikan perasaan anda kepadanya dengan kelembutan dan kejujuran.
20. Hargai akal dan buah pemikirannya.
21. Selalulah berbaik sangka kepada dirinya.
22. Bangkitkanlah perasaannya bahwa ia adalah wanita yang ideal bagi anda.
23. Bantulah ia meningkatkan kemampuannya.
24. Jagalah perasaannya terutama di saat haidh dan hamil.
25. Bantulah dirinya di dalam mengurusi anak-anak.
26. Hormati keluarganya, berbuat baik kepada mereka dan tidak melarangnya untuk mengunjungi keluarganya.
27. Makan bersama di rumah atau tempat lain yang tenang dan aman dari fitnah.
28. Berikan pujian dan sanjungan kepada dirinya.
29. Jagalah rahasianya dan janganlah menyebarkannya.
30. Jagalah hak-haknya dan janganlah menyia nyiakannya.
31. Berbuat adillah kepada dirinya.
32. Perlakukanlah dirinya dengan baik dan lemah lembut.
33. Bersikaplah realistis dan jadikanlah dirinya sebagai isteri yang ideal bagi anda.
34. Bekerja sama dengannya di dalam ketaatan kepada Allah.
35. Janganlah anda terlalu sering meninggalkan dirinya dan rumah.
36. Yang lalu biarlah berlalu dan jangan suka mengungkit-ungkit kesalahan yang telah berlalu.
37. Jangan memberikan peluang kepada orang lain untuk mencampuri urusan rumah tangga anda.
38. Jauhi motivasi yang buruk tatkala menikah.
39. Jagalah kesehatannya secara intensif.
40. Ajaklah isteri anda ke dalam kebahagiaan anda.
41. Kirimlah surat kepadanya apabila anda jauh darinya.
42. Jelas dan tidak tergesa-gesa apabila anda meminta sesuatu padanya sehingga dia faham dan tidak bingung dengan apa yang anda inginkan.
43. Maklumilah kecemburuannya dan maafkanlah.
44. Bantulah dirinya di dalam menghadapi persoalan persoalan yang menyusahkan dan membosankan.
45. Ikutilah petunjuk Islam ketika isteri anda berpaling.
46. Jangan menganggap diri anda selalu benar.
47. Mengikuti petunjuk Islam tatkala melakukan hubungan intim.
48. Tidak mendatangi isteri dari dubur atau tatkala haidh.
49. Menjaganya dari pandangan-pandangan jahat manusia.
50. Memberinya anggaran khusus selain biaya hidup sehari-hari.
51. Nikmatilah nikmatnya lupa terutama yang berkaitan dengan musibah-musibah yang menyedihkan, kesalahan kesalahan dan perilaku isteri di masa lalu.
52. Janganlah anda menunggu-nunggu mukjizat, karena isteri anda adalah unik dengan karakternya dan janganlah anda memaksanya berubah sekehendak anda. Terimalah dirinya apa adanya, tutuplah mata dari kelemahan-kelemahannya dan bukalah mata dari kelebihan-kelebihannya. Insya Allah isteri anda akan semakin mencintai anda.

Sumber : Kiat-kiat disayang isteri, Pustaka al-Sofwa, pent. Akhyar ash-Shidiq Muhsin, Lc.,
Editor : Kholid Syamhudi, Lc.
Judul Asli : Kayfa Taj'al Zawjataka Tuhibbuka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH ILMU DAKWAH

MAKALAH ILMU PEMBANGUNAN