SUARA RAKYAT UNTUK DEWAN

Pagi itu akhir januari 2014 digampong Monmata Kecamatan Krueng sabee kabupaten Aceh Jaya merupakan sebuah pemukiman kecil yang pernah luluh lantak diterjang ombak tsunami tahun 2004 lalu, tak berbeda dengan kampung lainya, Monmata masih dalam tahap pembangunan, gampong yang berpenduduk 1010 jiwa dan 360 kk itu adalah salah satu gampong yang tidak jauh dari kota  Kabupaten Aceh Jaya yaitu Calang, penduduk yang umumnya berprofesi sebagai petani, nelayan dan juga penambang emas itu kini mulai bangkit dari tidurnya, sudah terlihat perluasan jalan dan perbaikan parit didalam akan tetapi gampong yang berbatasan dengan gampong krueng sabee dan gampong kayee unoe itu masih sangat mengharapkan sarana dan prasarana lainya seperti sarana ibadah yaitu menasah yang masih terbuat dari papan yang mungkin tidak kita temui lagi dikabupaten Aceh Jaya.
Seperti biasa setiap minggu pagi aku menuju kewarung untuk meneguk segelas kopi, pagi yang cerah dengan tiupan angin menghembus pelan, meskipun semalam calang diguyur hujan tapi dengan sinaran matahari pagi yang menyentuh kulit membuat semangat itu bangkit, sesampai diwarung yang terbuat dari kayu bercat hijau yang masih sangat kental dengan warung era 80 an itu ku pesan segelas kopi luwak saset  “kak mala, bouh kupi luwak saboh” kak mala, kopi luwak satu, suruhku kepada pemilik warung tepat dipersimpangan monmata itu, didepan tempat dudukku terlihat seorang pria yang berbadan kurus berkulit agak gelap, memakai kemeja kotak-kotak duduk sendiri sambil mengotakatik ponsel berwarna hitam itu, sepertinya dia menunggu seseorang, akupun mendekatinya, sambil duduk disampingnya, “kiban bang gam?” sapa ku, “get alhamdulillah” spontan dia menjawab. 
Warung itu memang dipenuhi dengan foto dan poster para caleg, juga terlihat disamping kiri warung bendera salah satu partai yang akan berkoalisi 9 april nanti,  mulai ku buka pembicaraan dengan Suherman yang biasa di panggil Bang Gam, sehari–hari berprofesi sebagai Wiraswasta, tentang harapanya terhadap dewan yang terpilih nanti, “yang paleng penteng nyeu tepileh enteuk bektuwo peu makmu gampong, dan buka lapangan pekerjaan keu masyarakat” katanya sambil tersenyum, memakmurkan gampong dan membuka lapangan pekerjaan adalah harapan yang disandarkan oleh segenap masyarakat pada dewan kedepan  “bek sampee watee teu pileh enteuk kaca moto hana peutren lee, karna sesibuk apapun keu masyarakat bektuwoe, awak nyan dipileh lee masyarakat ken di ek keudroe” tambahnya dengan nada yang lembut. Menurutnya, amanah dari rakyat itu yang harus bener-bener dijaga, karena rakyatlah yang memilih mereka jangan sampai setelah menjadi anggota dewan rakyatpun tidak dikenal lagi.
Pertanyaan yang sama juga ku tujukan kepada muhammad amin warga desa mon mata yang duduk di sebelah meja kami,  dia merupakan salah seorang bilal menasah dikampung mon mata, harapannya bahwa caleg yang terpilih nantinya harus benar- benar memperhatikan nasib rakyat dari berbagai sektor seperti pendidikan, keagamaan, kesehatan, lapangan kerja itu akan mampu merubah nasib rakyat kearah yang lebih baik “ yang penteng begeuperhatikan nasib rakyat lagee bagian agama, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja nyan penteng that” katanya sambil senyum.
Berbeda dengan abdul hamid warga desa rigah yang juga seorang pemilik warung di lhok rigah“ bagi lon dum soe jet yang tepileh, tapi bek sampe neu piret rakyat” ujarnya sambil tertawa, hamid yang memakai kemeja berwarna kecoklatan berpendapat siapapun yang duduk dikursi rakyat boleh saja tapi jangan sampai menjepit rakyat, penilaianya, bahwa setiap calon legeslatif itu sama saja, tidak ada yang beda siapapun yang duduk disana. “soe manteng yang duk inan kamoe ken menoe cit hana berubah” ujarnya sambil membelah sebuah kelapa muda untuk pelanggannya.
Faisal seorang pelatih paskib calang  juga berpendapat sama, dikursi parlemen boleh duduk siapa saja, asalkan perhatiannya terhadap masyarakat itu ada, terutama terhadap kampung sendiri, serta peningkatan diberbagai sektor, berbicara masalah janji kampanye faisal juga mengungkapkan bahwa “masyarakat sebetoi jih kaget troe ngen janji dewan” katanya, sebenarnya masyarakat itu sudah sangat kenyang dengan setiap janji dewan itu jadi jangan Cuma mengumbar janji saja akan tetapi buktikan tanpa berjaji itu sudah cukup ungkap faisal sambil duduk dengan sebatang rokok dijarinya.
Pemuda yang memakai kaus putih itu mengharapkan bahwa untuk pemilu mendatang agar surat suara itu juga ada gambar para caleg tidak hanya ada nama dan gambar partai saja, “adak jeut bak  surat suara nyan beuna gambar caleg bek Cuma nan manteng dan lambang partai” faisal berpendapat bahwa tidak semua kalangan masyarakat dapat membaca, ini dapat mebuat masyarakat sangat kesulitan pada saat pemilihan nantinya.
Hamnan salah seorang pegawai yang sudah tiga tahun bertugas dicalang juga mengharapkan untuk wakil rakyat kedepan jangan sampai berkelompok-kelompok dalam membangun daerah, harus ada pemerataan dari berbagai sektor “kami mengharapkan kedepan dewan jangan sampai berkelompok-kelompok, harus adil dalam bersikap, dan satu hal lagi jangan sering keluar negeri atau keluar daerah kalau hanya tujuan untuk study banding saja” ujarnya.
Hamnan menilai banyak dari kalangan dewan menghabiskan dana untuk keluar negeri padahal hanya batas studi banding saja “kalau memang mau studi banding melihat Negara orang bagai mana kan bisa melihat diinternet saja” katanya.
Menyikapi masalah surat suara yang tidak ada gambarnya menurut hamnan tidak efektif karena tidak semua kalangan kita itu mampu melihat dengan jelas dan tidak semua kalangan masyarakat mampu tulis baca “tidak semua masyarakat itu mampu tulis baca, dan ada juga dari kalangan masyarakat sudah tak bisa melihat dengan jelas mungkin dia hanya bisa melihat gambar saja menurut saya tidak efektif tampa gambar” tuturnya. (Arif)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH ILMU DAKWAH

SURAT CINTA SANG IKHWAN

MAKALAH ILMU PEMBANGUNAN