SUARA RAKYAT UNTUK DEWAN

Seperti biasa setiap minggu pagi
aku menuju kewarung untuk meneguk segelas kopi, pagi yang cerah dengan tiupan
angin menghembus pelan, meskipun semalam calang diguyur hujan tapi dengan
sinaran matahari pagi yang menyentuh kulit membuat semangat itu bangkit,
sesampai diwarung yang terbuat dari kayu bercat hijau yang masih sangat kental
dengan warung era 80 an itu ku pesan segelas kopi luwak saset “kak mala, bouh kupi luwak saboh” kak mala,
kopi luwak satu, suruhku kepada pemilik warung tepat dipersimpangan monmata
itu, didepan tempat dudukku terlihat seorang pria yang berbadan kurus berkulit
agak gelap, memakai kemeja kotak-kotak duduk sendiri sambil mengotakatik ponsel
berwarna hitam itu, sepertinya dia menunggu seseorang, akupun mendekatinya,
sambil duduk disampingnya, “kiban bang
gam?” sapa ku, “get alhamdulillah”
spontan dia menjawab.
Warung itu memang dipenuhi dengan
foto dan poster para caleg, juga terlihat disamping kiri warung bendera salah
satu partai yang akan berkoalisi 9 april nanti, mulai ku buka pembicaraan dengan Suherman yang
biasa di panggil Bang Gam,
sehari–hari berprofesi sebagai Wiraswasta, tentang harapanya terhadap
dewan yang terpilih nanti, “yang paleng
penteng nyeu tepileh enteuk bektuwo peu makmu gampong, dan buka lapangan
pekerjaan keu masyarakat” katanya sambil tersenyum, memakmurkan gampong dan
membuka lapangan pekerjaan adalah harapan yang disandarkan oleh segenap
masyarakat pada dewan kedepan “bek sampee watee teu pileh enteuk kaca moto
hana peutren lee, karna sesibuk apapun keu masyarakat bektuwoe, awak nyan
dipileh lee masyarakat ken di ek keudroe” tambahnya dengan nada yang
lembut. Menurutnya, amanah dari rakyat itu yang harus bener-bener dijaga,
karena rakyatlah yang memilih mereka jangan sampai setelah menjadi anggota
dewan rakyatpun tidak dikenal lagi.
Pertanyaan yang sama juga ku tujukan
kepada muhammad amin warga desa mon mata yang duduk di sebelah meja kami, dia merupakan salah seorang bilal menasah dikampung
mon mata, harapannya bahwa caleg yang terpilih nantinya harus benar- benar
memperhatikan nasib rakyat dari berbagai sektor seperti pendidikan, keagamaan,
kesehatan, lapangan kerja itu akan mampu merubah nasib rakyat kearah yang lebih
baik “ yang penteng begeuperhatikan nasib
rakyat lagee bagian agama, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja nyan
penteng that” katanya sambil senyum.
Berbeda dengan abdul hamid warga
desa rigah yang juga seorang pemilik warung di lhok rigah“ bagi lon dum soe jet yang tepileh, tapi bek sampe neu piret rakyat”
ujarnya sambil tertawa, hamid yang memakai kemeja berwarna kecoklatan
berpendapat siapapun yang duduk dikursi rakyat boleh saja tapi jangan sampai
menjepit rakyat, penilaianya, bahwa setiap calon legeslatif itu sama saja,
tidak ada yang beda siapapun yang duduk disana. “soe manteng yang duk inan kamoe ken menoe cit hana berubah” ujarnya
sambil membelah sebuah kelapa muda untuk pelanggannya.
Faisal seorang pelatih paskib
calang juga berpendapat sama, dikursi
parlemen boleh duduk siapa saja, asalkan perhatiannya terhadap masyarakat itu
ada, terutama terhadap kampung sendiri, serta peningkatan diberbagai sektor,
berbicara masalah janji kampanye faisal juga mengungkapkan bahwa “masyarakat
sebetoi jih kaget troe ngen janji dewan” katanya, sebenarnya masyarakat itu
sudah sangat kenyang dengan setiap janji dewan itu jadi jangan Cuma mengumbar
janji saja akan tetapi buktikan tanpa berjaji itu sudah cukup ungkap faisal
sambil duduk dengan sebatang rokok dijarinya.
Pemuda yang memakai kaus putih
itu mengharapkan bahwa untuk pemilu mendatang agar surat suara itu juga ada
gambar para caleg tidak hanya ada nama dan gambar partai saja, “adak jeut bak surat suara nyan beuna gambar caleg bek Cuma
nan manteng dan lambang partai” faisal berpendapat bahwa tidak semua
kalangan masyarakat dapat membaca, ini dapat mebuat masyarakat sangat kesulitan
pada saat pemilihan nantinya.
Hamnan salah seorang pegawai yang
sudah tiga tahun bertugas dicalang juga mengharapkan untuk wakil rakyat kedepan
jangan sampai berkelompok-kelompok dalam membangun daerah, harus ada pemerataan
dari berbagai sektor “kami mengharapkan
kedepan dewan jangan sampai berkelompok-kelompok, harus adil dalam bersikap,
dan satu hal lagi jangan sering keluar negeri atau keluar daerah kalau hanya
tujuan untuk study banding saja” ujarnya.
Hamnan menilai banyak dari
kalangan dewan menghabiskan dana untuk keluar negeri padahal hanya batas studi
banding saja “kalau memang mau studi
banding melihat Negara orang bagai mana kan bisa melihat diinternet saja”
katanya.
Menyikapi masalah surat suara
yang tidak ada gambarnya menurut hamnan tidak efektif karena tidak semua
kalangan kita itu mampu melihat dengan jelas dan tidak semua kalangan masyarakat
mampu tulis baca “tidak semua masyarakat
itu mampu tulis baca, dan ada juga dari kalangan masyarakat sudah tak bisa
melihat dengan jelas mungkin dia hanya bisa melihat gambar saja menurut saya
tidak efektif tampa gambar” tuturnya. (Arif)
Komentar
Posting Komentar