DALUPA BUKTI SEJARAH
Hari mulai sore,
aku masih saja sibuk berputar-putar di rumah itu, persiapan untuk malam 40 hari
meninggal Ibundaku mulai rampung, semua masakan siap saji telah disediakan
untuk para tamu undangan, orang kampung datang dan pulang dari rumah itu,
terlihat oleh ku seorang kakek yang berumur setengah abad itu duduk sendiri
berseder di dinding rumah, dengan sebatang rokok “rukok on”rokok daun/rokok
lintingperlahan dia menghisapnya, kakek yang berusia sekitar
70 tahun itu tidak asing lagi bagiku,
Hari mulai sore,
aku masih saja sibuk berputar-putar di rumah itu, persiapan untuk malam 40 hari
meninggal Ibundaku mulai rampung, semua masakan siap saji telah disediakan
untuk para tamu undangan, orang kampung datang dan pulang dari rumah itu,
terlihat oleh ku seorang kakek yang berumur setengah abad itu duduk sendiri
berseder di dinding rumah, dengan sebatang rokok “rukok on”rokok daun/rokok
linting perlahan dia menghisapnya, kakek yang berusia sekitar
70 tahun itu tidak asing lagi bagiku,
nek din namanya, sesaat ku menghampirinya dan menyapa
“Peuhaba cik?” apa kabar kakek “cik” adalah bahasa orang aceh jaya yang sering di kenal dengan kakek, spontan
dia menjawabku “get alhamdulillah” baik alhamdulillah,
sesaat ku mulai membuka pembicaraan dengannya, “sang mangat bakong kunengnyoe”
sepertinya enak tembakau kuning ini kataku padanya “cie rasa ilee saboh“ suruhnya, aku mulai menggulug rokok itu dan ku
hisap. Ternyata memang pas dengan seleraku terasa
samporna mild di mulutku.
Sekilas ku bertanya lagi padanya, “ pajan neu ili cik?”kapan turun dari kampung kakek “ili” biasa dikenal
dengan turun dari gunung kepesisir, “ ban trok siatnyoe” hasratku banyak, ingin bertanya tentang sejarah-sejarah lama,karna ku tau
beliau adalah orang yang tau tentang sejarah -sejarah khususnya sejarah aceh
jaya, aku bertanya tentang DALUPA, dalupa merupakan salah satu peran yang
dimainkan dalam seni Rapa I, khususnya rapa I debus aceh jaya, yang bertempat
di gampong panggong. Dalupa adalah panggilan untuk seorang pengawal pada jaman
dulu yang memakai topeng dengan bahan “pureh jok” daun lidi enau yang saat sekarang di perani oleh orang yang masuk kedalam
baju terbuat dari “pureh jok” daun lidi enau tersebut.
“jadi kiban asal
mula cerita dalupanyan cik” jadi dari mana
asal mula cerita dalupa itu kek tanyaku ingin tau “jadi menoe cerita jih, dalupanya awai that adalah pari” pari adalah mahluk yang hidup didunia ini akan
tetapi kita tidak mampu melihat dan menerawang dengan kasat mata dia ada
didunia ini dan hanya saja tak ada yang mampu melihatnya “masa dile tgk sabe, geujak dari nanggroe lua kenoe u
aceh, dan trok kenoe u panggong” masa dulu tgk
sabee, atau raja sebee merupakan seorang kepala suku masa itu di kampung
tersebut yang datang dari negeri luar dan menetap di panggong. Panggong adalah
nama kampung yang masih ada sampai sekarang, yang asal mula panggong adalah
pada saat itu didaerah tersebut “panggong sekarang”ada sebatang pohon yang besar yang tumbang akan tetapi tidak sampai
ketanah, di tahan oleh pohon laen yang bercabang sehingga
terpanggung/tertupang, oleh karena itu desa itu dinamakan dengan panggung.
“Raja sabe watee nyan teungeh geujak, geu lewat si bak,
bak kaye raya, geu dengeu na ureng bie salem, Assalamua’laiku?”pada saat itu tgk sabee/raja sebee sedang berjalan
melewati sebatang pohon besar dan mendengar ada seorang yang memberi salam
Assalamu’alaiku. Beliau menjawab “wa’alaikumsalam” sekilas beliau menoleh kebelakang, akan tetapi tak ada seorang pun yang ada
didekatnya, sehingga tgk sabee heran siapa yang memberi salam barusan, sesaat
kemudian terdengar suara yang berkata “lon na di sampeng dron” saya ada disamping anda, “meunyeu kemeung kalon lon, tulong cok
kupiyah/tangkulok indatu lon bineh bak kayee rayanyan dan neu pakek” jika anda ingin melihat saya, tolong ambilkan
kopiyah atau pecie kakek saya dekat pohon besar itu dan pakailah, sesaat tgk
sabee mendekati pohon besar itu dan melihat ada sebuah gulungan yang berbentuk
peci atau bundelan yang terbuat dari “pureh jok” atau daun lidi enau dan beliau memakainya, setelah beliau memakai pecie
“kupiah” tersebut beliau melihat kearah suara itu dan melihat sesosok orang
tinggi besar yang berdiri didekatnya, “mulai jinoe lon ikot dron” mulai sekarang saya pengikut anda ungkapnya. Sehingga setiap perjalanan
beliua pasti ada pengawalnya dan akhirnya menjadi seorang manusia biasa. “menan cerita jih” begitu ceritanya kata nek din yang biasa dikenal dengan geuchik din
panggong,“hingga jinoe
kamoe sepakat meucok ceritanya dengan meu peuget dalupa dengan bajee dari pureh
joknyan” ujarnya dan kamoe meu dalam rapa,I daboh kamoe, yang khas Aceh
Jaya dari desa panggong” hingga sekarang
kami dengan teman-teman lain sepakat mengambil dari cerita tersebut dengan
membuat dalupa yang kami mainkan dalam rapa.i debus kami yang khas aceh jaya
dari desa panggong. tambahnya.
Sesaatku tercengang memerhatikan ceritanya, begitu
banyak sejarah yang tersimpan dalam diri seorang nek din, sehingga dengan mudah
beliau menceritakan sejarah dalupa tersebut, tanpa ada buka di tangannya.
Sekarang sejenak kita merenungkan dalam diri kita masing-masing sebagai
anak cucu dari peradaban dulu,akankah cerita tersebut kita tau? Apakah kita
bisa tau tentang sejarah tersebut jika kelak ada pertanyaan dari anak cucu
kita? Oleh karena itu ada kata harus kita ingat “ ureung aceh bek tuwoe keu
sejarah” orang
aceh jangan sampai lupa pada sejarah. (Arif Hidayat.S.Sos.I)

Komentar
Posting Komentar