MAKALAH KOMUNIKASI PEMBANGUNAN
Salah satu kajian dari
komunikasi yang akan dibahas dalam penelitian tentang revitalisasi pariwisata
pasca gempa dan tsunami 17 Juli 2006 adalah komunikasi pembangunan.
Keberhasilan pembangunan berawal dari adanya komunikasi dalam pembangunan.
Komunikasi memiliki peran dalam pelaksanaan pembangunan. Hedebro (dalam
Nasution, 2004:95-96) mengidentifikasi tiga aspek komunikasi dan pembangunan
yang berkaitan dengan tingkat analisanya, yaitu :
1. Pendekatan yang berfokus pada pembangunan
suatu bangsa, dan bagaimana media massa dapat menyumbang dalam upaya tersebut.
Di sini, politik dan fungsi-fungsi media massa dalam pengertian yang umum
merupakan objek studi, sekaligus masalah-masalah yang menyangkut struktur
organisasional dan pemilikan, serta kontrol terhadap media. Untuk studi jenis
ini, sekarang digunakan istilah kebijakan komunikasi dan merupakan pendekatan
yang paling luas dan bersifat general (umum).
2. Pendekatan yang juga dimaksudkan untuk
memahami peranan media massa dalam pembangunan nasional, namun lebih jauh
spesifik. Persoalan utama dalam studi ini adalah bagaimana media dapat dipakai
secara efisien, untuk mengajarkan pengetahuan tertentu bagi masyarakat suatu
bangsa.
3. Pendekatan yang berorientasi kepada
perubahan yang terjadi pada suatu komunitas lokal atau desa. Studi jenis ini
mendalami bagaimana aktivitas komunikasi dapat dipakai untuk mempromosikan
penerimaan yang luas akan ide-ide dan produk baru.
Dari sekian banyak ulasan para
ahli mengenai peran komunikasi pembangunan, Hedebro (dalam Nasution,
2004:102-103) mendaftar 12 peran yang dapat dilakukan komunikasi dalam
pembangunan, yakni:
1.
Komunikasi
dapat menciptakan iklim bagi perubahan dengan membujukkan nilai-nilai, sikap
mental, dan bentuk perilaku yang menunjang modernisasi.
2.
Komunikasi
dapat mengajarkan keterampilan-keterampilan baru, mulai dari baca-tulis ke
pertanian, hingga ke keberhasilan lingkungan, hingga reparasi mobil
(Schram,1967).
3.
Media
massa dapat bertindak sebagai pengganda sumber-sumber daya pengetahuan.
4.
Media
massa dapat mengantarkan pengalaman-pengalaman yang seolah-olah dialami
sendiri, sehingga mengurangi biaya psikis dan ekonomis untuk menciptakan
kepribadian yang mobile.
5.
Komunikasi
dapat meningkatkan aspirasi yang merupakan perangsang untuk bertindak nyata.
6.
Komunikasi
dapat membantu masyarakat menemukan norma-norma baru dan keharmonisan dari masa
transisi (Rao,1966).
7.
Komunikasi
dapat membuat orang lebih condong untuk berpartisipasi dalam pembuatan
keputusan di tengah kehidupan masyarakat.
8.
Komunikasi
dapat mengubah struktur kekuasaan pada masyarakat yang bercirikan tradisional,
dengan membawa pengetahuan kepada massa. Mereka yang beroleh informasi akan
menjadi orang yang berarti, dan para pemimpin tradisional akan tertantang oleh
kenyataan bahwa ada orang-orang lain yang juga mempunyai kelebihan dalam hal
memiliki informasi.
9.
Komunikasi
dapat menciptakan rasa kebangsaan sebagai sesuatu yang mengatasi
kesetiaan-kesetiaan lokal.
10.
Komunikasi
dapat membantu mayoritas populasi menyadari pentingnya arti mereka sebagai
warga negara, sehingga dapat membantu meningkatkan aktivitas politik (Rao,
1966)
11.
Komunikasi
memudahkan perencanaan dan implementasi program-program pembangunan yang
berkaitan dengan kebutuhan penduduk
12.
Komunikasi
dapat membuat pembangunan ekonomi, sosial, dan politik menjadi suatu proses
yang berlangsung sendiri (self-perpetuating).
Konsep komunikasi pembangunan
dapat dilihat dalam arti yang luas dan terbatas. Dalam arti yang luas,
komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi komunikasi (sebagai suatu
aktivitas pertukaran pesan secara timbal-balik) diantara semua pihak yang
terlibat dalam usaha pembangunan, terutama antara masyarakat dengan pemerintah,
sejak dari proses perencanaan, kemudian pelaksanaan, dan penilaian terhadap
pembangunan. Sedang dalam arti yang sempit, komunikasi pembangunan merupakan
segala upaya dan cara, serta teknik penyampaian gagasan, dan
keterampilan-keterampilan pembangunan yang berasal dari pihak yang memprakarsai
pembangunan dan ditujukan kepada masyarakat luas. Kegiatan tersebut bertujuan
agar masyarakat yang dituju dapat memahami, menerima, dan berpartisipasi dalam
melaksanakan gagasan-gagasan yang disampaikan tadi.
Kedua pengertian tadi
merupakan acuan dari konsep komunikasi pembangunan pada umumnya. Sedangkan
konsep komunikasi pembangunan khas Indonesia dapat didefinisikan sebagi berikut
:
“ Komunikasi pembangunan adalah proses penyebaran
pesan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada khalayak guna mengubah sikap,
pendapat, dan perilakunya dalam rangka meningkatkan kemajuan lahiriah dan
kepuasan batiniah, yang dalam keselarasannya dirasakan secara merata oleh
seluruh rakyat” (Effendy, 2005: 92).
Agar komunikasi pembangunan
lebih berhasil mencapai sasarannya, serta dapat menghindarkan kemungkinan
efek-efek yang tidak diinginkan. Kesenjangan efek ditimbulkan oleh kekeliruan
cara-cara komunikasi, hal ini bisa diperkecil bila memakai strategi komunikasi
pembangunan yang dirumuskan sedemikian rupa, yang mencakup prinsip-prinsip
berikut:
a.
Pengunaan pesan yang dirancang secara khusus (tailored message) untuk khalayak yang
spesifik.
b.
Pendekatan “ceiling
effect” yaitu dengan mengkomunikasikan pesan-pesan yang bagi golongan yang
dituju (katakanlah golongan atas) merupakan redudansi (tidak lagi begitu
berguna karena sudah dilampaui mereka atau kecil manfaatnya, namun tetap
berfaedah bagi golongan khalayak yang hendak dicapai.
c.
Penggunaan pendekatan “narrow casting” atau melokalisir penyampaian pesan bagi kepentingan
khalayak .
d.
Pemanfaatan saluran tradisional, yaitu berbagai bentuk
pertunjukkan rakyat yang sejak lama berfungsi sebagai saluran pesan yang akrab
dengan masyarakat setempat.
e. Pengenalan para pemimpin opini di kalangan
lapisan masyarakat yang berkekurangan (disadvantage),
dan meminta bantuan mereka untuk menolong mengkomunikasikan pesan-pesan
pembangunan.
f.
Mengaktifkan
keikutsertaan agen-agen perubahan yang berasal dari kalangan masyarakat sendiri
sebagai petugas lembaga pembangunan yang beroperasi di kalangan rekan sejawat
mereka sendiri.
g. Diciptakan dan dibina cara-cara atau
mekanisme keikutsertaan khalayak (sebagai pelaku-pelaku pembangunan itu
sendiri) dalam proses pembangunan, yaitu sejak tahap perencanaan sampai
evaluasinya (Nasution, 2004:163-164).
Menurut AED (1985), ada empat
strategi komunikasi pembangunan yang telah digunakan selama ini, yaitu:
a. Strategi-strategi yang didasarkan pada
media yang dipakai (media based strategy).
b.
Strategi-strategi disain instruksional.
c.
Strategi-strategi partisipatori.
d.
Strategi-strategi pemasaran (Nasution, 2004:164).
Masing-masing
strategi mencerminkan suatu rangkaian prioritas tertentu mengenai bagaimana
menggunakan komunikasi untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan pembangunan.
Sistem Komunikasi Pembangunan
Dalam proses komunikasi pembangunan maka fungsi komunikasi adalah sebagai salah satu di antara sub sistem dalam sistem pengelolaan perubahan (Change Management System), yaitu :
Sub sistem organisasi (organizational sub system)
Sub sitem komunikasi (communication sub system)
Sub sistem tujuan perubahan (change target sub system)
Mekanismenya : organisasi sebagai bentuk ikatan dan subsistem merupakan input yang penting, komunikasi sebagai pengolah (processor)nya dan change target sub system sebagai outputnya. Bagaimana output sangat ditentukan oleh komunikasi sebagai prossercornya.
Setiap komunikasi pembangunan menginginkan adanya perubahan nilai ataupun penggunaan suatu nilai lama untuk tujuan yang baru. Perubahan dalam nilai maupun dalam tujuan dengan sendirinya akan menginginkan perubahan sikap (attitude change) dari setiap anggota masyarakat. Salah atu syarat yang terpenting dari komunikasi pembangunan adalah bahwa motivasi penduduk harus diketahui untuk dimanfaatkan dan dikaitkan dengan idea pembangunan. Berdasarkan motivasi tersebut akan menentukan sikap yaitu predisposisi seseorang untuk menilai suatu lambang atau objek ataupun aspek hidupnya dalam nilai yang menguntungkan atau pun merugikan. Apabila penilaian ini diadakan secara tersusun maka akan terbentuklah sistem nilai. Melalui komunikasi sosial maka komunikator akan cepat mengetahui apa yang merupakan motivasi pokok dari komunikan (baik perseorangan maupun kelompok).
Sesuai dengan motivasinya maka manusia akan membentuk sikapnya terhadap idea pembangunan pula dan memberi atau pun menolak pemberian partisipasinya. Pembentukan sikap merupakan hasil dari pengalaman, maka proses penerimaan sikap yang baru terjadi melalui proses belajar, yaitu mengadakan penyesuaian individu terhadap kelompok ataupun setelah melalui proses balajar memahami dalam jangka waktu yang panjang.
Komunikasi Pembangunan merupakan suatu kegiatan atau suatu proses yang menginginkan perubahan besar-besaran dalam sikap, mental dan tingkah laku manusia. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik berikut :
Teknik persuasi (persuasion technique)
Teknik pengadaan situasi sedemikian rupa sehingga orang terpaksa secara tidak langsung mengubah sikapnya (compulsion technique)
Teknik dengan mengulang apa yang diharapkan akan masuk dalam bidang bawah sadar seseorang sehingga ia mengubah sikap diri sesuai dengan apa yang diulang (pervasion technique)
memaksa secara langsung pengadaan perubahan sikap, dengan dengan hukuman fisik ataupun materi (coersion technique)
Perubahan-perubahan dalam pembangunan menimbulkan impact communication pembangunan. Untuk mengubah mental, sikap ataupun tingkah laku seseorang tidaklah mudah.
Apabila hanya dititikberatkan pada unsur teknis komunikasinya saja dan kurang memperhatikan faktor paling penting dan menentukan (yaitu manusianya itu sendiri) maka banyak kemungkinan tujuan komunikasi pembangunan akan gagal. Tetapi sebaliknya apabila kurang memperhatikan segi-segi teknis komunikasinya saja, maka komunikasi pembangunan ada kemungkinan akan gagal juga. Maka semuanya itu tergantung pada situasi yang dihadapi.
Komunikasi Pembangunan harus didahului oleh pengadaan suatu favourable mental climate ataupun predisposisi, kesediaan untuk menerima message komunikasi pembangunan itu sendiri. Komunikasi Pembangunan bertujuan atau akan mengakibatkan perubahan sosial besar-besaran. Hal ini berarti modernisasi atau kemajuan, tetapi masyarakat tidak akan menerima atau mau berpartisipasi apabila inti isi message tadi tidak dipahami, tidak dirasakan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya, sehingga tidak akan sampai kepada taraf motivasi.
Sistem Komunikasi Pembangunan harus melihat pula, bahwa pada umumnya di setiap negara berkembang, disamping ada komunikasi massa yang modern, masih juga terdapat suatu sistem komunikasi tradisional. Untuk itulah komunikasi pembangunan harus memperhitungkan adanya “firs-step flow” dan “second-step flow” dalam proses komunikasinya tersebut. Dalam hal ini arti pentingnya para informal leaders ataupun para opinion leaders.
Komunikasi Pembangunan juga adalah suatu proses pendidikan dalam arti luas, dalam arti pembangunan modern yang mengusahakan agar didapat suatu pendidikan dan kehidupan yang berbeda dari anak didiknya dengan orang tuanya. Komunikasi pembangunan adalah juga komunikasi perubahan, yang menghendaki perubahan dalam kebudayannya. Setiap pendidikan kearah perubahan sikap dan mental tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan kebudayaannya.
Komunikasi Pembangunan untuk mengadakan perubahan masyarakat tidak dapat dijalankan denga seragam, melainkan harus melihat masyarakat sebagai kesatuan komunitas yang heterogen dan harus diadakan pendekatan ekosistem dengan berbagai pendekatan multidisipliner yang dapat menunjang bagian-bagian yang “action-oriented” dan “goal-directed”.
Inti dari komunikasi pembangunan adalah “planning in advance”, memperhitungkan bahwa setiap tahap perkembangan (sebagai akibat perubahan) akan mengakibatkan arus komunikasi dan informasi yang lain, dengan akibat bahwa perencanaan sudah harus siap dengan kegiatan komunikasi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh situasi yang baru. Perencanaan dalam komunikasi pembangunan tidak cukup hanya satu kegiatan komunikasi untuk satu tahap/rencana. Setiap tahap harus merupakan suatu rencana perhitungan dalam “longterm project”, sehingga komunikasi pembangunan berarti juga Perencanaan dalam komunikasi .
Menurut Daniel Lerner bahwa : “komunikasi untuk pembangunan termasuk bentuk komunikasi yang tersukar apalagi bila pembangunan harus dilakukan melalui proses demokrasi ... “
Untuk menjawab pernyataan Lerner tersebut maka harus mengoptimalkan media massa : seberapa jauhkah media massa (demi pemenuhan hak eksistensinya) dalam suatu masyarakat berkembang, bagaimana media massa menjalankan fungsinya dalam komunikasi pembangunan.
Peranan media massa dalam setiap masyarakat membangun dirasakan semakin meningkat, terutama dalam pengaruhnya terhadap unsur-unsur yang dapat menyebar idea pembangunan lebih lanjut. Menurut Harold D. Lasswell dalam buku Communication Research ang Public Policy menyebutkan bahwa media massa makin bertambah pengaruh dan kekuasaanya dan bersama pemerintah mengadakan “shaping and sharing of power” pada tahap “surveillance” dan “interpretation” dengan sub tahap sebagai berikut :
policy processes and planning, tahap yang sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap dan sistem nilai baru. Tahap ini adalah tahap pengumpulan dan penyebaran intelegensi kepada pemerintah maupun pejabat dan petugasnya.
prescribing phase, tahap pernyataan dengan cara bagaimana (dan norma-norma apa) idea pembangunan dapat disebar-luaskan dan dihayati masyarakat.
involving phase, tahap pemberian informasi kepada pelaksana/pejabat tentang bagaimana pelaksanaan sesungguhnya dalam usaha memperoleh partisipasi masyarakat.
application phase, tahap bagaimana penerimaan selanjutnya oleh masyarakat : apakah hanya dalam tahap percobaan/permulaan ataukah idea dan cara baru dilaksanakan selanjutnya juga sehingga tujuan pembangunan tercapai.
terminating function, dalam kegiatan tentang pelaksanaan sebenarnya dari idea pembangunan diadakan penilaian kembali oleh mass media dengan menyarankan apa yang sebaiknya diperbaiki, ditiadakan ataupun dirubah pelaksanaannya, dan lain-lain.
appraisal phase, mengadakan penilaian terakhir/total terhadap hasil pembagian sebagai keseluruhan atas masyarakat seluruhnya.
Dalam proses komunikasi pembangunan maka fungsi komunikasi adalah sebagai salah satu di antara sub sistem dalam sistem pengelolaan perubahan (Change Management System), yaitu :
Sub sistem organisasi (organizational sub system)
Sub sitem komunikasi (communication sub system)
Sub sistem tujuan perubahan (change target sub system)
Mekanismenya : organisasi sebagai bentuk ikatan dan subsistem merupakan input yang penting, komunikasi sebagai pengolah (processor)nya dan change target sub system sebagai outputnya. Bagaimana output sangat ditentukan oleh komunikasi sebagai prossercornya.
Setiap komunikasi pembangunan menginginkan adanya perubahan nilai ataupun penggunaan suatu nilai lama untuk tujuan yang baru. Perubahan dalam nilai maupun dalam tujuan dengan sendirinya akan menginginkan perubahan sikap (attitude change) dari setiap anggota masyarakat. Salah atu syarat yang terpenting dari komunikasi pembangunan adalah bahwa motivasi penduduk harus diketahui untuk dimanfaatkan dan dikaitkan dengan idea pembangunan. Berdasarkan motivasi tersebut akan menentukan sikap yaitu predisposisi seseorang untuk menilai suatu lambang atau objek ataupun aspek hidupnya dalam nilai yang menguntungkan atau pun merugikan. Apabila penilaian ini diadakan secara tersusun maka akan terbentuklah sistem nilai. Melalui komunikasi sosial maka komunikator akan cepat mengetahui apa yang merupakan motivasi pokok dari komunikan (baik perseorangan maupun kelompok).
Sesuai dengan motivasinya maka manusia akan membentuk sikapnya terhadap idea pembangunan pula dan memberi atau pun menolak pemberian partisipasinya. Pembentukan sikap merupakan hasil dari pengalaman, maka proses penerimaan sikap yang baru terjadi melalui proses belajar, yaitu mengadakan penyesuaian individu terhadap kelompok ataupun setelah melalui proses balajar memahami dalam jangka waktu yang panjang.
Komunikasi Pembangunan merupakan suatu kegiatan atau suatu proses yang menginginkan perubahan besar-besaran dalam sikap, mental dan tingkah laku manusia. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik berikut :
Teknik persuasi (persuasion technique)
Teknik pengadaan situasi sedemikian rupa sehingga orang terpaksa secara tidak langsung mengubah sikapnya (compulsion technique)
Teknik dengan mengulang apa yang diharapkan akan masuk dalam bidang bawah sadar seseorang sehingga ia mengubah sikap diri sesuai dengan apa yang diulang (pervasion technique)
memaksa secara langsung pengadaan perubahan sikap, dengan dengan hukuman fisik ataupun materi (coersion technique)
Perubahan-perubahan dalam pembangunan menimbulkan impact communication pembangunan. Untuk mengubah mental, sikap ataupun tingkah laku seseorang tidaklah mudah.
Apabila hanya dititikberatkan pada unsur teknis komunikasinya saja dan kurang memperhatikan faktor paling penting dan menentukan (yaitu manusianya itu sendiri) maka banyak kemungkinan tujuan komunikasi pembangunan akan gagal. Tetapi sebaliknya apabila kurang memperhatikan segi-segi teknis komunikasinya saja, maka komunikasi pembangunan ada kemungkinan akan gagal juga. Maka semuanya itu tergantung pada situasi yang dihadapi.
Komunikasi Pembangunan harus didahului oleh pengadaan suatu favourable mental climate ataupun predisposisi, kesediaan untuk menerima message komunikasi pembangunan itu sendiri. Komunikasi Pembangunan bertujuan atau akan mengakibatkan perubahan sosial besar-besaran. Hal ini berarti modernisasi atau kemajuan, tetapi masyarakat tidak akan menerima atau mau berpartisipasi apabila inti isi message tadi tidak dipahami, tidak dirasakan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya, sehingga tidak akan sampai kepada taraf motivasi.
Sistem Komunikasi Pembangunan harus melihat pula, bahwa pada umumnya di setiap negara berkembang, disamping ada komunikasi massa yang modern, masih juga terdapat suatu sistem komunikasi tradisional. Untuk itulah komunikasi pembangunan harus memperhitungkan adanya “firs-step flow” dan “second-step flow” dalam proses komunikasinya tersebut. Dalam hal ini arti pentingnya para informal leaders ataupun para opinion leaders.
Komunikasi Pembangunan juga adalah suatu proses pendidikan dalam arti luas, dalam arti pembangunan modern yang mengusahakan agar didapat suatu pendidikan dan kehidupan yang berbeda dari anak didiknya dengan orang tuanya. Komunikasi pembangunan adalah juga komunikasi perubahan, yang menghendaki perubahan dalam kebudayannya. Setiap pendidikan kearah perubahan sikap dan mental tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan kebudayaannya.
Komunikasi Pembangunan untuk mengadakan perubahan masyarakat tidak dapat dijalankan denga seragam, melainkan harus melihat masyarakat sebagai kesatuan komunitas yang heterogen dan harus diadakan pendekatan ekosistem dengan berbagai pendekatan multidisipliner yang dapat menunjang bagian-bagian yang “action-oriented” dan “goal-directed”.
Inti dari komunikasi pembangunan adalah “planning in advance”, memperhitungkan bahwa setiap tahap perkembangan (sebagai akibat perubahan) akan mengakibatkan arus komunikasi dan informasi yang lain, dengan akibat bahwa perencanaan sudah harus siap dengan kegiatan komunikasi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh situasi yang baru. Perencanaan dalam komunikasi pembangunan tidak cukup hanya satu kegiatan komunikasi untuk satu tahap/rencana. Setiap tahap harus merupakan suatu rencana perhitungan dalam “longterm project”, sehingga komunikasi pembangunan berarti juga Perencanaan dalam komunikasi .
Menurut Daniel Lerner bahwa : “komunikasi untuk pembangunan termasuk bentuk komunikasi yang tersukar apalagi bila pembangunan harus dilakukan melalui proses demokrasi ... “
Untuk menjawab pernyataan Lerner tersebut maka harus mengoptimalkan media massa : seberapa jauhkah media massa (demi pemenuhan hak eksistensinya) dalam suatu masyarakat berkembang, bagaimana media massa menjalankan fungsinya dalam komunikasi pembangunan.
Peranan media massa dalam setiap masyarakat membangun dirasakan semakin meningkat, terutama dalam pengaruhnya terhadap unsur-unsur yang dapat menyebar idea pembangunan lebih lanjut. Menurut Harold D. Lasswell dalam buku Communication Research ang Public Policy menyebutkan bahwa media massa makin bertambah pengaruh dan kekuasaanya dan bersama pemerintah mengadakan “shaping and sharing of power” pada tahap “surveillance” dan “interpretation” dengan sub tahap sebagai berikut :
policy processes and planning, tahap yang sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap dan sistem nilai baru. Tahap ini adalah tahap pengumpulan dan penyebaran intelegensi kepada pemerintah maupun pejabat dan petugasnya.
prescribing phase, tahap pernyataan dengan cara bagaimana (dan norma-norma apa) idea pembangunan dapat disebar-luaskan dan dihayati masyarakat.
involving phase, tahap pemberian informasi kepada pelaksana/pejabat tentang bagaimana pelaksanaan sesungguhnya dalam usaha memperoleh partisipasi masyarakat.
application phase, tahap bagaimana penerimaan selanjutnya oleh masyarakat : apakah hanya dalam tahap percobaan/permulaan ataukah idea dan cara baru dilaksanakan selanjutnya juga sehingga tujuan pembangunan tercapai.
terminating function, dalam kegiatan tentang pelaksanaan sebenarnya dari idea pembangunan diadakan penilaian kembali oleh mass media dengan menyarankan apa yang sebaiknya diperbaiki, ditiadakan ataupun dirubah pelaksanaannya, dan lain-lain.
appraisal phase, mengadakan penilaian terakhir/total terhadap hasil pembagian sebagai keseluruhan atas masyarakat seluruhnya.
Komentar
Posting Komentar